Kiki Zakiah
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pola Komunikasi Persona dalam Mempertahankan Hubungan Long Distance Relationship pada Mahasiswa Annisa Dwi Salsabila; Kiki Zakiah
Bandung Conference Series: Public Relations 241-250
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.24858

Abstract

Abstract. This study aims to understand communication persona patterns in maintaining Long Distance Relationships (LDR) among university students. The phenomenon of LDR has become increasingly common due to educational mobility and the advancement of digital communication technologies that enable couples to maintain interactions despite  geographical separation. This study employed a qualitative method using Edmund Husserl's phenomenological approach and a constructivist paradigm. The research subjects consisted of six university students involved in LDR relationships, selected purposively. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that participants interpreted their LDR experiences as a process of personal maturity, emotional challenge, and sacrifice for the future of the relationship. To cope with these challenges, individuals engaged in intrapersonal communication through self-talk, self-reflection, and emotional regulation, which shaped three communication personas: communicative-open, patient-understanding, and supportive. These personas were reflected in communication patterns marked by routine interaction, openness, digital-media use, and adaptability. The primary motives sustaining LDR were love, long-term commitment, aspirations for marriage, and trust. This study concludes that communication persona patterns play a central role in creating healthy communication and sustaining LDR relationships.   Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pola komunikasi persona dalam mempertahankan hubungan Long Distance Relationship (LDR) pada mahasiswa. Fenomena LDR semakin umum terjadi seiring meningkatnya mobilitas pendidikan dan perkembangan teknologi komunikasi digital yang memungkinkan pasangan tetap berinteraksi meskipun terpisah oleh jarak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Edmund Husserl dan paradigma konstruktivisme. Subjek penelitian terdiri dari enam informan mahasiswa yang sedang menjalani hubungan LDR, dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman menjalani LDR dimaknai sebagai proses pendewasaan diri, tantangan emosional, dan pengorbanan demi masa depan hubungan. Dalam menghadapi tantangan tersebut, individu melakukan komunikasi intrapersonal melalui self-talk, refleksi diri, dan pengelolaan emosi, yang kemudian membentuk tiga persona komunikasi, yaitu persona komunikatif dan terbuka, persona sabar dan pengertian, serta persona suportif. Persona tersebut terwujud dalam pola komunikasi yang rutin, terbuka, memanfaatkan media digital, dan adaptif. Motif utama yang mendorong individu mempertahankan hubungan LDR meliputi cinta dan kasih sayang, komitmen jangka panjang, harapan menuju pernikahan, serta kepercayaan terhadap pasangan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola komunikasi persona berperan penting dalam menciptakan komunikasi yang sehat dan mempertahankan keberlangsungan hubungan LDR.
Representasi Kesenjangan Sosial Ekonomi dalam Film 13 Bom di Jakarta Farras Muhammad; Kiki Zakiah
Bandung Conference Series: Public Relations 427-434
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.25816

Abstract

Abstract. This research is entitled "Representation of Socio-Economic Inequality in the Film 13 Bombs in Jakarta". The object of this research is a mass communication media film 13 Bombs in Jakarta by Angga Dwimas Sasongko which will be released in 2023. The aim of this research is to find out the signs, objects and interpretants, which show social inequality in the film 13 Bom Di Jakarta, and to find out the meaning of socio-economic inequality in the film 13 Bom Di Jakarta. With Charles Sanders Peirce's semiotic analysis, signs according to Charles Sanders Peirce have a relationship between one sign and another sign. This research uses a qualitative approach with Charles Sanders Pierce's semiotic analysis method to assist researchers in observing scene fragments in 13 Bombs in Jakarta. Abstrak. Penelitian ini berjudul “Representasi Kesenjangan Sosial Ekonomi Pada Film 13 Bom Di Jakarta”. Objek dari penelitian ini adalah sebuah media komunikasi massa film yang 13 Bom Di Jakarta karya Angga Dwimas Sasongko yang di rilis pada tahun 2023 . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanda-tanda sign, object, dan interpretant, yang menunjukan ketimpangan sosial pada film 13 Bom Di Jakarta, dan mengetahui makna ketimpangan sosial ekonomi pada film 13 Bom Di Jakarta. Dengan analisis Semiotika Charles Sanders Peirce, dimana tanda-tanda menurut Charles Sanders Pierce memiliki hubungan antara satu tanda dengan tanda lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Charles Sanders Pierce untuk membantu peneliti dalam mengamati potongan scene dalam 13 Bom Di Jakarta.
Representasi Konflik Komunikasi Keluarga dalam Film Alrazza Taufik Hussein; Kiki Zakiah
Bandung Conference Series: Public Relations 581-588
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v6i2.26191

Abstract

Abstract. How To Make Millions Before Grandma Dies (2024) tells the story of M, a college dropout who decides to care for his elderly grandmother in the hope of inheriting her wealth. As the story unfolds, the film portrays various forms of family communication conflict rooted in inheritance disputes, material interests, and shifting family relationships. This study aims to examine how family communication conflict is represented in the film. A qualitative approach was employed using John Fiske’s semiotic analysis through the Codes of Television framework, which consists of the levels of reality, representation, and ideology. The research object comprises scenes depicting family communication conflict, which were analyzed through verbal and nonverbal codes, cinematographic techniques, and the underlying ideologies. The findings reveal that the film represents family communication conflict as a tension between material interests and familial affection, expressed primarily through indirect communication rather than overt confrontation. At the level of reality, conflict is represented through changes in intonation, communication avoidance, facial expressions, body gestures, and eye contact. At the level of representation, conflict is reinforced through cinematographic techniques, particularly medium shots, medium close-up shots, medium wide shots, close-up shots, and visual composition. At the ideological level, the film represents the influence of familism, matriarchy, and traditionalism on communication patterns, decision-making, and relationships among family members.   Abstrak. Film How To Make Millions Before Grandma Dies (2024) menceritakan seorang pelajar putus kuliah bernama M yang merawat neneknya dengan harapan memperoleh warisan. Seiring perkembangan cerita film ini menampilkan berbagai konflik komunikasi keluarga yang dipengaruhi oleh perebutan warisan, kepentingan material, dan perubahan relasi antaranggota keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi konflik komunikasi keluarga dalam film tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika John Fiske melalui konsep Codes of Television, yang meliputi level realitas, representasi, dan ideologi. Objek penelitian berupa adegan-adegan yang merepresentasikan konflik komunikasi keluarga, yang dianalisis melalui kode verbal dan nonverbal, teknik sinematografi, serta ideologi yang melatarbelakanginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik komunikasi keluarga direpresentasikan sebagai benturan antara kepentingan material dan ikatan afektif yang lebih banyak diekspresikan melalui komunikasi tidak langsung daripada pertengkaran terbuka. Pada level realitas, konflik ditampilkan melalui perubahan intonasi, penghindaran komunikasi, ekspresi wajah, gestur tubuh, dan kontak mata. Pada level representasi, konflik diperkuat melalui penggunaan medium shot, medium close-up shot, medium wide shot, close-up shot, serta komposisi visual. Pada level ideologi, film merepresentasikan pengaruh familialisme, matriarki, dan tradisionalisme terhadap pola komunikasi, pengambilan keputusan, serta relasi antaranggota keluarga.