Pembelajaran bahasa Arab di Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan penguasaan sistem linguistik, tetapi juga persoalan keterpisahan materi pembelajaran dari pengalaman sosial dan budaya peserta didik. Materi yang terlalu berorientasi pada konteks budaya Arab berpotensi menjadikan bahasa Arab dipersepsi sebagai bahasa yang jauh dari kehidupan sehari-hari peserta didik. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk integrasi kearifan lokal Aceh dalam materi pembelajaran bahasa Arab serta merumuskan model integrasi yang menghubungkan kompetensi linguistik, konteks budaya, dan nilai pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis dokumen. Sumber data mencakup literatur mengenai pembelajaran bahasa Arab berbasis budaya, etnopedagogi, culturally responsive teaching, serta penelitian mengenai hadih maja, peusijuek, meurukon, kehidupan gampong, kuliner, kesenian, dan tradisi sosial masyarakat Aceh. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Aceh dapat diintegrasikan ke dalam materi mufradāt, hiwār, qirā’ah, kitābah, istimā’, dan kalām melalui tiga dimensi utama, yaitu integrasi konten budaya, integrasi aktivitas berbahasa, dan integrasi nilai. Penelitian menghasilkan model Integrasi Konten–Bahasa–Nilai (IKBN) yang menempatkan budaya Aceh sebagai konteks autentik untuk pembentukan kompetensi komunikatif bahasa Arab sekaligus penguatan identitas budaya peserta didik. Model ini berimplikasi pada perlunya pengembangan bahan ajar bahasa Arab yang kontekstual, adaptif, autentik, serta sensitif terhadap keberagaman budaya lokal.