Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat toleransi plasma nutfah padi lokal Bangka terhadap cekaman kekeringan dan keracunan aluminium pada fase bibit sebagai upaya identifikasi sumber genetik untuk pengembangan varietas adaptif di lahan suboptimal. Pengujian toleransi kekeringan dilaksanakan di Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi (BBPSI Padi) Sukamandi pada November–Desember 2023 menggunakan metode bak semen berdasarkan Standard Evaluation System (SES) IRRI. Materi yang diuji terdiri atas empat aksesi padi lokal Bangka (Runteh, Pulut Merah, Mayang Pandan, dan Balok) serta varietas pembanding Salumpikit, IR20, Inpago 8, dan Inpago 10. Parameter yang diamati meliputi skor menggulung daun, skor mengering daun, dan kemampuan pulih (recovery). Pengujian toleransi aluminium dilakukan menggunakan kultur larutan Yoshida termodifikasi dengan taraf Al 0 ppm dan 40 ppm. Tingkat toleransi ditentukan berdasarkan nilai Relatif Panjang Akar (RPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi Runteh merupakan genotipe paling toleran terhadap cekaman kekeringan dengan skor menggulung daun 3, skor mengering daun 3, dan recovery 1, setara dengan varietas toleran Salumpikit. Pulut Merah, Mayang Pandan, dan Balok tergolong agak toleran dengan skor mengering 5. Pada pengujian aluminium, Mayang Pasir menunjukkan toleransi tertinggi dengan nilai RPA 0,83 (sangat toleran), sedangkan sebagian besar aksesi padi lokal Bangka memiliki nilai RPA 0,61–0,80 sehingga tergolong toleran. Aksesi Runteh memiliki toleransi terhadap dua cekaman sekaligus, yaitu kekeringan dan aluminium, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber plasma nutfah dalam program pemuliaan varietas padi adaptif untuk lahan kering dan tanah masam di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.