Risdam Habibi Hasibuan
Universitas Samudra, Kota Langsa, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Needs Analysis of the Textbook–Context Gap in Grade V IPAS Cultural Heritage Learning in Mandailing Natal Rahmi Seri Hanida; Salsa Bila Hasibuan; Risdam Habibi Hasibuan
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i3.466

Abstract

Grade V IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) learning is expected to connect cultural heritage concepts with students’ immediate cultural environments. This study examined the needs arising from the textbook–context gap in cultural heritage learning at SD Negeri 098 Pidoli, Mandailing Natal, Indonesia. Using a qualitative descriptive needs-analysis design, data were collected through classroom observations, unstructured interviews with the teacher and students, and document analysis of the government-issued IPAS textbook and its accompanying worksheet. The findings revealed that instruction relied predominantly on the textbook, while supplementary materials incorporating Mandailing local wisdom were unavailable. The analysed materials provided limited representation of Mandailing cultural heritage and opportunities for contextual exploration. Although students recognised local cultural elements such as Bagas Godang through everyday experience, this familiarity did not consistently develop into conceptual understanding of their historical, social, symbolic, and cultural significance, indicating a gap between recognition and understanding. These findings indicate the need for contextual supplementary materials that bridge formal IPAS concepts with students’ lived cultural experiences. As a single-site qualitative needs analysis, the findings are context-specific and provide an empirical basis for developing locally grounded teaching materials Pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) kelas V diharapkan mampu menghubungkan konsep warisan budaya dengan lingkungan budaya terdekat siswa. Penelitian ini menganalisis kebutuhan yang muncul dari kesenjangan antara buku teks dan konteks lokal (textbook–context gap) dalam pembelajaran warisan budaya di SD Negeri 098 Pidoli, Mandailing Natal, Indonesia. Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan needs analysis. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara tidak terstruktur dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen terhadap buku teks IPAS terbitan pemerintah dan lembar kerja siswa. Temuan menunjukkan bahwa pembelajaran masih bertumpu terutama pada buku teks, sementara bahan pendamping yang mengintegrasikan kearifan lokal Mandailing belum tersedia. Materi yang dianalisis juga masih terbatas dalam merepresentasikan warisan budaya Mandailing dan menyediakan kesempatan untuk eksplorasi kontekstual. Meskipun siswa mengenali unsur budaya lokal seperti Bagas Godang melalui pengalaman sehari-hari, pengenalan tersebut belum secara konsisten berkembang menjadi pemahaman konseptual mengenai makna historis, sosial, simbolik, dan budayanya, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara pengenalan dan pemahaman. Temuan ini mengindikasikan perlunya bahan ajar pendamping kontekstual yang menjembatani konsep formal IPAS dengan pengalaman budaya siswa. Sebagai needs analysis kualitatif pada satu lokasi, temuan penelitian bersifat kontekstual dan memberikan landasan empiris bagi pengembangan bahan ajar berbasis budaya lokal.