Abstract This study investigates how reformism and revivalism interact dialectically within Nahdlatul Ulama’s (NU) contemporary intellectual movement. Background: Responses to modernization, religious pluralism, and transnational Islamic movements have driven NU to develop new paradigms like Islam Nusantara and Fiqih Peradaban. However, existing scholarship predominantly views NU through a binary lens as either traditionalist or moderate-progressive, neglecting its internal epistemological dynamics. The research focuses on the discursive construction of Islam Nusantara and Fiqih Peradaban, examining how NU reconciles classical authority with contemporary social transformation. Employing a qualitative, library-based approach using discourse analysis, the study analyzes primary organizational documents, including Baḥtsul Masā'il decisions and Munas Alim Ulama proceedings, alongside secondary academic literature. Findings reveal that reformism and revivalism function as mutually reinforcing epistemological frameworks rather than opposing ideologies. While Islam Nusantara contextualizes Islamic teachings locally, Fiqih Peradaban expands this framework toward global, civilizational concerns. Ultimately, NU formulates a model of "tradition-based reformism" that reconstructs classical Islamic authority to drive contextual renewal within modern, pluralistic societies. Abstract Penelitian ini mengkaji bagaimana reformisme dan revivalisme berinteraksi secara dialektis dalam gerakan intelektual kontemporer Nahdlatul Ulama (NU). Respons terhadap modernisasi, pluralisme agama, dan gerakan Islam transnasional mendorong NU mengembangkan paradigma baru seperti Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban. Namun, studi terdahulu cenderung memandang NU secara dikotomis sebagai organisasi tradisionalis atau moderat-progresif saja, sehingga mengabaikan dinamika epistemologis internalnya. Penelitian ini berfokus pada konstruksi diskursif Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban, serta bagaimana NU mempertemukan otoritas klasik dengan transformasi sosial kontemporer. Penelitian ini, menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis diskursus, menganalisis dokumen resmi organisasi seperti keputusan Baḥtsul Masa'il and Munas Alim Ulama that are triangulated with literature academics. Temuan menunjukkan bahwa reformisme dan revivalisme berfungsi sebagai kerangka epistemologis yang saling menguatkan, bukan ideologi yang bertentangan. Islam Nusantara berperan mengontekstualisasikan ajaran Islam secara lokal, whereas Fiqih Peradaban memperluasnya ke ranah peradaban global. Pada akhirnya, NU merumuskan model "pembaharuan berbasis tradisi" yang merekonstruksi otoritas Islam klasik untuk mendorong pembaharuan kontekstual di masyarakat modern yang plural.