Siti Ulfiyani
Universitas Negeri Semarang, Semarang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

CAMPUR KODE DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI MADRASAH BERBASIS PESANTREN: KAJIAN SOSIOLINGUITIK: CODE-MIXING IN INDONESIAN LANGUAGE LEARNING INTERACTIONS AT A PESANTREN-BASED MADRASAH: A SOCIOLINGUISTIC STUDY Ria Ristiani; Nanik Setyawati; Siti Ulfiyani
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha Vol. 16 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbsi.v16i2.120298

Abstract

Campur kode merupakan fenomena kebahasaan yang lazim muncul dalam interaksi pembelajaran sebagai konsekuensi dari kemampuan bilingual penutur. Meskipun penelitian mengenai campur kode dalam pembelajaran telah banyak dilakukan, kajian mengenai interaksi pembelajaran di madrasah berbasis pesantren masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud campur kode dan faktor-faktor yang melatarbelakangi penggunaannya dalam interaksi pembelajaran bahasa Indonesia. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya mengkaji campur kode pada sekolah umum, media digital, atau wacana formal, penelitian ini berfokus pada interaksi pembelajaran di madrasah berbasis pesantren yang memiliki karakter kebahasaan unik melalui penggunaan bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Arab secara berdampingan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode simak melalui teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), rekam, dan catat. Analisis data dilakukan menggunakan metode agih dan metode padan. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan menghadirkan deskripsi empiris mengenai variasi wujud dan faktor campur kode dalam konteks pembelajaran di madrasah berbasis pesantren serta menunjukkan keterkaitannya dengan fungsi komunikasi pedagogis dalam interaksi guru dan siswa. Berdasarkan teknik pemilihan data secara purposif, diperoleh 20 data representatif yang terdiri atas 4 kata, 4 frasa, 3 baster, 3 perulangan kata, 3 idiom, dan 3 klausa. Faktor yang paling dominan ialah identifikasi ragam, diikuti identifikasi peranan serta keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa campur kode tidak hanya merefleksikan praktik bilingual guru dan siswa, tetapi juga dimanfaatkan untuk menyesuaikan situasi komunikasi, memperjelas penyampaian materi, dan membangun kedekatan interpersonal dalam pembelajaran.