Sri Ayu Anisafitri
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Membaca Ulang Distopia: Identitas dan Kontrol Sosial dalam Film Uglies (2024) dan A World Without (2021) Melalui Perspektif Jacques Derrida Sri Ayu Anisafitri; Maman Suryaman
Jurnal Ragam Pengabdian Vol. 3 No. 2 (2026): Mei-Agustus, Sustainable Development Goals (SDGs): Multidisciplinary Perspectiv
Publisher : Lembaga Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/76qnz910

Abstract

Film distopia tidak hanya merepresentasikan masyarakat masa depan yang dikendalikan sistem, tetapi juga membangun konstruksi identitas dan kontrol sosial melalui berbagai praktik representasi. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi representasi identitas dan kontrol sosial dalam film Uglies (2024) dan A World Without (2021) berdasarkan perspektif dekonstruksi Jacques Derrida. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis teks digunakan untuk menganalisis dialog, narasi, dan adegan yang merepresentasikan identitas dan kontrol sosial melalui tiga konsep utama dekonstruksi: oposisi biner, hierarki makna, dan kontradiksi makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua film membangun identitas melalui oposisi biner yang menempatkan satu konsep sebagai pusat dan konsep lain sebagai pinggiran. Dalam Uglies, oposisi diwujudkan melalui pasangan Pretty/Ugly, sempurna/tidak sempurna, dan bebas/terikat, sedangkan A World Without membangunnya melalui pasangan patuh/melawan, kontrol/kebebasan, komunitas/individualitas, dan moral/penyimpangan. Struktur tersebut menghasilkan hierarki makna yang melegitimasi kesempurnaan dan kepatuhan sebagai nilai dominan. Namun, pembacaan dekonstruktif menunjukkan bahwa hierarki tersebut tidak stabil karena makna dominan selalu bergantung pada unsur yang dimarginalkan, melahirkan kontradiksi ketika nilai yang dijanjikan sebagai kebahagiaan justru berkembang menjadi mekanisme kontrol dan penindasan. Temuan ini menegaskan bahwa identitas dan kontrol sosial dalam kedua film merupakan konstruksi ideologis yang dinamis dan terbuka terhadap pembacaan ulang.