Lama hari rawat inap merupakan indikator krusial mutu dan efisiensi pelayanan rumah sakit dalam sistem pembiayaan INA-CBGs pada era JKN. RSUD dr. Doris Sylvanus sebagai pusat rujukan di Kalimantan Tengah menghadapi beban pelayanan tinggi dengan Average Length of Stay mencapai 8,83 hari pada tahun 2024 dan 8,57 hari pada tahun 2025. Analisis faktor yang memengaruhi durasi perawatan penting untuk optimalisasi alur pasien dan stabilitas finansial. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor (usia, jenis kelamin, kelas perawatan, jumlah diagnosis, dan tingkat keparahan/severity level) yang berhubungan dengan lama hari rawat inap pasien BPJS Kesehatan di RSUD dr. Doris Sylvanus Kota Palangka Raya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi adalah 1.461 data klaim pasien rawat inap BPJS Kesehatan periode Desember 2025. Sampel sebanyak 314 kasus diperoleh melalui teknik purposive sampling menggunakan rumus Slovin. Data sekunder bersumber dari aplikasi Self-Service Business Intelligence (SSBI) BPJS Kesehatan dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square (p = 0,05). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p = 0,772) dan kelas rawat (p = 0,330) dengan lama hari rawat inap. Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p = 0,011), jumlah diagnosis (p = 0,011), dan tingkat keparahan (p < 0,001) dengan lama hari rawat inap. Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin, jumlah diagnosis, dan severity level dengan lama rawat inap, sedangkan usia dan kelas perawatan tidak berhubungan. Rumah sakit disarankan mengoptimalkan rencana pemulangan pasien dengan diagnosis multipel dan tingkat keparahan tinggi demi meningkatkan efisiensi tempat tidur