Aritmia merupakan gangguan irama jantung yang dapat bersifat ringan hingga mengancam nyawa, serta berkontribusi signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Prevalensi aritmia, khususnya fibrilasi atrium, terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi dan tingginya faktor risiko. Selain itu, keterbatasan data epidemiologi aritmia di Provinsi Gorontalo serta akses terhadap pelayanan jantung spesialistik menjadikan pemanfaatan tele-elektrokardiografi (tele-EKG) sebagai alternatif untuk mendukung deteksi dini dan pemetaan kasus aritmia di layanan kesehatan primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran epidemiologi aritmia berdasarkan hasil pemeriksaan tele-EKG di wilayah kerja Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional yang dilaksanakan di Puskesmas Kabila Kabupaten Bone Bolango pada Mei sampai Juni 2023. Sampel penelitian sebanyak 426 responden dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan data rekam medis periode Mei–Juni 2023. Analisis data pada penelitian ini memakai perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Dari 426 orang yang menjalani tele-EKG, responden perempuan mendominasi (55,6%), dengan kelompok usia 55–64 tahun sebagai porsi terbesar (44,0%). Fibrilasi atrium jadi temuan aritmia paling sering muncul (13,8%), disusul blok atrioventrikular derajat I (5,9%) dan right bundle branch block (4,5%). Prevalensi aritmia di wilayah kerja Puskesmas Kabila tergolong cukup signifikan, terutama pada kelompok usia lanjut dengan faktor risiko kardiovaskular. Pemanfaatan tele-EKG terbukti efektif sebagai alat skrining untuk mendeteksi berbagai jenis aritmia serta mendukung peningkatan akses layanan kardiovaskular di fasilitas kesehatan primer, terutama pada wilayah dengan keterbatasan akses terhadap dokter spesialis, sehingga dapat menjadi dasar perencanaan program pencegahan dan pengendalian penyakit kardiovaskular.