Pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah (MI) kerap dihadapkan pada tantangan berupa metode yang kurang komunikatif dan lingkungan berbahasa yang minim, sehingga siswa cenderung memandang bahasa Arab sebagai pelajaran yang sulit. Thoriqoh Mubasyiroh (Direct Method) ditawarkan sebagai alternatif dengan menekankan penggunaan bahasa target secara langsung tanpa perantara bahasa ibu. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Thoriqoh Mubasyiroh, mendeskripsikan pengalaman belajar siswa, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat penerapannya pada siswa kelas 6 MI Darunnajah 2 Cipining, Bogor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dipadukan dengan pendekatan fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap lima informan yang dipilih secara purposive, yaitu kepala madrasah, guru bahasa Arab kelas 6, serta tiga siswa yang mewakili kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data mengikuti model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, dengan keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Thoriqoh Mubasyiroh diterapkan secara terstruktur melalui penggunaan bahasa Arab sebagai pengantar utama pada 70–80% waktu pembelajaran, didukung teknik demonstrasi, tanya jawab, role play, drill, permainan bahasa, dan storytelling. Pengalaman belajar siswa berkembang melalui tiga tahap afektif, dari rasa malu dan takut salah menuju kepercayaan diri, dengan peningkatan paling menonjol pada maharah al-kalam dan maharah al-istima'. Keberhasilan penerapan metode ditopang oleh sinergi dukungan institusional, lingkungan bi'ah lughowiyyah pesantren, dan fasilitas pembelajaran, meskipun masih dihadapkan pada hambatan berupa heterogenitas kemampuan siswa dan keterbatasan jam pelajaran. Penelitian ini memperluas kajian Thoriqoh Mubasyiroh pada jenjang pendidikan dasar berbasis pesantren yang selama ini belum banyak dieksplorasi.