This study describes intercultural communication, communication barriers, and communication adaptation among participants of the ANNIE School Net Conference 2024. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving Indonesian and Vietnamese delegates. Findings reveal that intercultural communication occurred through formal and informal activities presentations, group discussions, cultural sharing sessions, and daily social interactions that served as media for information exchange, cultural learning, and global perspective development. Barriers encountered included limited English proficiency, accent differences, varying communication styles, and psychological factors such as nervousness and shyness. To overcome these, participants adapted their speaking styles, simplified their language, used nonverbal cues and translation apps, practiced active listening, and stayed open to other cultures. These adaptations reduced communication barriers and strengthened participants' intercultural communication competence, showing that the conference functioned both as an academic exchange forum and a learning space for cross-cultural communication skills. Penelitian ini menggambarkan proses komunikasi antarbudaya, hambatan komunikasi, dan adaptasi komunikasi peserta ANNIE School Net Conference 2024. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap delegasi Indonesia dan Vietnam. Hasil menunjukkan komunikasi antarbudaya berlangsung melalui kegiatan formal maupun nonformal presentasi, diskusi kelompok, pertukaran budaya, dan interaksi sosial sehari-hari yang berfungsi sebagai sarana pertukaran informasi, pembelajaran budaya, dan pengembangan wawasan global. Hambatan yang muncul meliputi keterbatasan bahasa Inggris, perbedaan aksen, perbedaan gaya komunikasi, serta faktor psikologis seperti gugup dan malu. Untuk mengatasinya, peserta menyesuaikan gaya bicara, menyederhanakan bahasa, memanfaatkan komunikasi nonverbal dan aplikasi penerjemah, meningkatkan kemampuan mendengarkan aktif, serta membangun keterbukaan terhadap budaya lain. Adaptasi ini berhasil mengurangi hambatan komunikasi sekaligus meningkatkan kompetensi komunikasi antarbudaya peserta, menunjukkan bahwa konferensi ini berfungsi baik sebagai forum pertukaran akademik maupun ruang pembelajaran komunikasi lintas budaya.