Riza Hernawati
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonstruksi Pesan Teknis Konten Media Sosial dalam Mengedukasi Calon Klien Business-to-Business (B2B): Studi Kasus pada Akun Instagram @mnabridge.id Rifki; Riza Hernawati
Bandung Conference Series: Communication Management 651 - 658
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.24777

Abstract

The landscape of Business-to-Business (B2B) marketing communication demands the transformation of complex technical messages into humanistic digital narratives to prevent information overload. PT. Media Nusantara Agamindo (MNA Bridge) faces the challenge of information asymmetry in communicating IT and Accounting services to non-technical prospective clients via Instagram. This research aims to analyze the implementation of technical message reconstruction through the synchronization of chunking methods, copywriting strategies, and visual hierarchy arrangements, as well as to explain the strategic reasons for selecting these elements in reducing the audience's extraneous cognitive load. This research utilizes a descriptive qualitative method with a case study approach and a constructivism paradigm. Data were collected through active online participant observation, in-depth interviews with internal informants (Head of Creative and Head of IT Divisions) and proxies for prospective B2B clients (CEOs), and documentation. Data analysis was conducted following the six procedural steps of Creswell & Creswell. The results show that MNA Bridge successfully reduced the audience's cognitive load through three integrative pillars: (1) "language metamorphosis," which transforms technical jargon into everyday analogies through strict internal curation; (2) the application of visual rhetoric via color palette differentiation and minimalist design as cognitive navigation; and (3) the use of the carousel format to break down information (chunking) and provide message reception pauses (pacing). The synergy of these three strategies has been empirically proven to successfully convert technical complexity into perceptions of professionalism, bonafide credibility, and trust from business decision-makers.   Lanskap komunikasi pemasaran Business-to-Business (B2B) menuntut transformasi pesan teknis yang kompleks menjadi narasi digital yang humanis guna menghindari information overload. PT. Media Nusantara Agamindo (MNA Bridge) menghadapi tantangan asimetri informasi dalam mengomunikasikan jasa IT dan Akuntansi kepada calon klien non-teknis melalui Instagram. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis proses implementasi rekonstruksi pesan teknis melalui sinkronisasi metode chunking, strategi copywriting, dan pengaturan hierarki visual, serta menjelaskan alasan strategis pemilihan elemen tersebut dalam mereduksi extraneous cognitive load audiens. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif aktif secara daring, wawancara mendalam terhadap informan internal (Kepala Divisi Kreatif dan Kepala Divisi IT) serta proksi calon klien B2B (CEO), dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mengikuti enam tahapan prosedural Creswell & Creswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MNA Bridge berhasil mereduksi beban kognitif audiens melalui tiga pilar integratif: (1) "metamorfosa bahasa" yang mengubah jargon teknis menjadi analogi berbasis keseharian melalui kurasi internal yang ketat; (2) penerapan retorika visual melalui diferensiasi palet warna dan desain minimalis sebagai navigasi kognitif; serta (3) penggunaan format carousel untuk memecah informasi (chunking) dan memberikan jeda penerimaan pesan (pacing). Sinergi dari ketiga strategi ini secara empiris terbukti sukses mengonversi kerumitan teknis menjadi persepsi profesionalitas, bonafiditas, dan rasa percaya (trust) dari para pengambil keputusan bisnis.
Implementasi Teknik Personal Selling Windi Sudartiani; Riza Hernawati
Bandung Conference Series: Communication Management 777 - 784
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25198

Abstract

Indonesia's automotive industry, which continues to grow each year, creates high demand for vehicle spare parts availability. Amid intensifying business competition and rapid digital media expansion, ASP Motor continues to rely on personal selling as its primary approach for marketing Mitsubishi spare parts without utilizing social media. This study aims to analyze how personal selling techniques are implemented by ASP Motor, the obstacles encountered during marketing process, and the reasons personal selling is maintained without social media support. A qualitative method with a case study approach was employed in this research. Data were collected through in-depth interviews, observation, literature review, and documentation involving the business owner, loyal customers, and an expert informant for triangulation purposes. Data were analyzed through reduction, data display, and conclusion drawing, while validity was ensured through source and method triangulation. Findings reveal that ASP Motor implements personal selling through product portfolio presentations, sample introductions to prospective customers, price transparency, and encouraging consumer purchasing decisions. Obstacles encountered include differences in perception, unclear information, and consumer assessments of the communication approach. ASP Motor maintains personal selling due to its products' technical nature requiring direct explanation, longterm customer loyalty, and trust built through personal relationships with the business owner.   Industri otomotif Indonesia yang terus berkembang setiap tahunnya menciptakan kebutuhan yang tinggi terhadap ketersediaan suku cadang atau sparepart kendaraan. Di tengah meningkatnya persaingan usaha dan pesatnya perkembangan media digital, ASP Motor justru tetap mempertahankan teknik personal selling sebagai pendekatan utama dalam memasarkan sparepart Mitsubishi tanpa memanfaatkan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui bagaimana implementasi teknik personal selling yang dilakukan ASP Motor, hambatan yang dihadapi dalam proses pemasaran, serta alasan teknik personal selling tetap dipertahankan tanpa bantuan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi terhadap pemilik usaha, pelanggan tetap ASP Motor serta informan ahli sebagai proses triangulasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi personal selling ASP Motor dilakukan melalui penyampaian portofolio produk, pengenalan sampel ke calon pelanggan, transparansi harga, dan mendorong keputusan pembelian konsumen. Hambatan yang dihadapi meliputi perbedaan persepsi, ketidakjelasan informasi, dan penilaian konsumen terhadap pendekatan komunikasi. ASP Motor mempertahankan personal selling karena karakteristik produk teknis yang membutuhkan penjelasan langsung, loyalitas pelanggan jangka panjang, serta kepercayaan yang terbentuk melalui hubungan personal dengan pemilik usaha.