Anne Ratnasari
Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Branding Berkonsep Otomotif pada Bisnis Ice Cream Service Bandung Rizki Ibrahim; Anne Ratnasari
Bandung Conference Series: Communication Management 999 - 1006
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25753

Abstract

The food and beverage (F&B) industry is highly competitive, requiring a strong branding strategy to create market differentiation. Ice Cream Service in Bandung presents a distinctive branding approach that merges the automotive and F&B industries to create a unique consumer experience. This study aims to examine how the branding strategy implemented by Ice Cream Service strengthens its brand identity and market positioning, focusing on its automotive-themed architecture, unique selling proposition, market segmentation, and the rationale behind adopting an automotive workshop concept as its brand identity. Using a constructivist paradigm and a qualitative case-study method, data were gathered through in-depth interviews with the owner and staff, observation, and documentation, and verified through source triangulation. Berger and Luckmann’s The Social Construction of Reality serves as the analytical framework for understanding how the brand identity is externalized, objectivated, and internalized by consumers. The findings show that the automotive-inspired interior and exterior design, distinctive product offerings such as automotive-themed flavors and packaging, community-based segmentation, and the owner’s personal passion collectively form a coherent and difficult-to-imitate brand identity, positioning Ice Cream Service as a lifestyle community hub for young automotive enthusiasts in Bandung.   Industri food and beverage (F&B) merupakan sektor bisnis yang berkembang pesat dan sangat kompetitif, sehingga memerlukan strategi branding yang kuat untuk menciptakan diferensiasi di pasar. Ice Cream Service di Kota Bandung menghadirkan pendekatan branding yang unik dengan menggabungkan konsep otomotif dan produk es krim untuk menciptakan pengalaman konsumen yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana strategi branding yang diterapkan Ice Cream Service memperkuat identitas merek dan positioning di pasar, dengan berfokus pada desain arsitektur bertema bengkel otomotif, unique selling proposition (USP), segmentasi pasar, dan alasan pemilihan konsep bengkel otomotif sebagai identitas merek. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme dengan metode kualitatif melalui pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik dan staf, observasi, serta dokumentasi, dan diverifikasi melalui triangulasi sumber. Teori The Social Construction of Reality dari Berger dan Luckmann digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami bagaimana identitas merek dieksternalisasi, diobjektivasi, dan diinternalisasi oleh konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain interior dan eksterior bertema bengkel otomotif, keunikan produk seperti rasa dan kemasan bertema otomotif, segmentasi berbasis komunitas, serta passion pribadi pemilik secara bersama-sama membentuk identitas merek yang koheren dan sulit ditiru, sehingga memposisikan Ice Cream Service sebagai lifestyle community hub bagi anak muda pencinta otomotif di Kota Bandung.
Hubungan Komunikasi Visual Digital dengan Keputusan Pembelian Konsumen Produk Fashion: Studi Korelasional pada Website dan Instagram Footlocker Indonesia Fitran Mochammad Fauzi; Anne Ratnasari
Bandung Conference Series: Communication Management 1033 - 1040
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v6i2.25898

Abstract

Digital visual communication has become a central strategy in online fashion retail, replacing the physical shopping experience with visual cues delivered through websites and social media. This study examines the relationship between digital visual communication and consumer purchase decisions on fashion products, focusing on the website and Instagram account of Foot Locker Indonesia. Digital visual communication is measured through three dimensions, namely visual aesthetics, visual merchandising, and visual branding, grounded in Digital Visual Rhetoric Theory. This research employs a quantitative method with a correlational approach, using a Likert-scale questionnaire distributed to 98 active followers of the Instagram account @footlockerid who had purchased products through footlocker.id, selected through simple random sampling from a population of 4,049 followers. Data were analyzed using Spearman Rank correlation with the assistance of SPSS version 27. The results show that digital visual communication has a very strong, positive, and significant relationship with consumer purchase decisions (r = 0.986; p < 0.001). Each dimension, namely visual aesthetics (r = 0.973), visual merchandising (r = 0.978), and visual branding (r = 0.969), also shows a very strong and significant relationship with purchase decisions. These findings confirm that digital visual communication plays a strategic role in shaping consumer perception and purchase behavior in the digital fashion industry.   Komunikasi visual digital telah menjadi strategi utama dalam bisnis ritel fashion daring, menggantikan pengalaman belanja fisik melalui tampilan visual pada website dan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi visual digital dengan keputusan pembelian konsumen produk fashion pada website dan akun Instagram Foot Locker Indonesia. Komunikasi visual digital diukur melalui tiga dimensi, yaitu estetika visual, visual merchandising, dan branding visual, dengan berlandaskan pada Digital Visual Rhetoric Theory. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional, melalui penyebaran kuesioner berskala Likert kepada 98 responden yang merupakan pengikut aktif akun Instagram @footlockerid dan pernah melakukan pembelian melalui website footlocker.id, yang dipilih menggunakan teknik random sampling dari populasi sebanyak 4.049 pengikut. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan bantuan program SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi visual digital memiliki hubungan yang sangat kuat, positif, dan signifikan dengan keputusan pembelian konsumen (r = 0,986; p < 0,001). Setiap dimensi, yaitu estetika visual (r = 0,973), visual merchandising (r = 0,978), dan branding visual (r = 0,969), juga menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan dengan keputusan pembelian. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi visual digital memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi dan perilaku pembelian konsumen pada industri fashion daring.