Persimpangan jalan merupakan lokasi dengan potensi tinggi terjadinya konflik lalu lintas dan kecelakaan, khususnya pada persimpangan tanpa lampu lalu lintas (unsignalized intersection), di mana pergerakan kendaraan bergantung pada penilaian pengemudi dalam menentukan prioritas dan memilih celah aman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko keselamatan lalu lintas di Persimpangan Tiga Tanpa Lampu Lalu Lintas Tugu Tani, Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, dengan menggunakan metode *Traffic Conflict Technique* (TCT). Data primer dikumpulkan melalui observasi lapangan langsung selama tujuh hari berturut-turut (pukul 06.00–18.00 WIB). Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik geometrik persimpangan, volume lalu lintas, kecepatan kendaraan, jarak konflik, dan kejadian konflik lalu lintas. Volume lalu lintas dicatat menggunakan aplikasi Multi Counter, kecepatan kendaraan diukur menggunakan aplikasi SmartSpeed, dan kejadian konflik didokumentasikan menggunakan formulir observasi TCT. Tingkat keparahan setiap konflik dievaluasi menggunakan parameter *Time to Accident* (TA), yang dihitung sebagai rasio antara jarak ke titik konflik dan kecepatan kendaraan. Hasil penelitian menunjukkan total volume lalu lintas sebanyak 76.046 kendaraan selama periode observasi, dengan arus lalu lintas tertinggi terjadi pada Lengan A (40%). Sebanyak 759 konflik lalu lintas teridentifikasi, yang terdiri dari 355 konflik persilangan (*crossing*) (46,77%), 220 konflik penggabungan arus (*merging*) (28,99%), 112 konflik pemisahan arus (*diverging*) (14,76%), dan 72 konflik saling silang (*weaving*) (9,48%). Berdasarkan klasifikasi TCT, 122 konflik (16,07%) dikategorikan sebagai Konflik Serius, sedangkan 637 konflik (83,93%) diklasifikasikan sebagai Konflik Tidak Serius. Meskipun sebagian besar konflik tergolong tidak serius, adanya konflik serius menunjukkan bahwa persimpangan tersebut masih memiliki risiko keselamatan lalu lintas yang cukup tinggi. Oleh karena itu, langkah-langkah perbaikan seperti pemeliharaan marka jalan, evaluasi operasional lampu lalu lintas, pengaturan aktivitas di tepi jalan, dan evaluasi keselamatan lalu lintas secara berkala direkomendasikan untuk mengurangi frekuensi konflik serta meningkatkan keselamatan pengguna jalan.