Penelitian ini mengkaji praktik pembacaan Al-Ma’tsurat sebagai fenomena Living Hadith di Pondok Modern “Al-Islam” Kapas, Sukomoro, Nganjuk. Kajian terdahulu umumnya menyoroti resepsi, pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pengalaman spiritual, sementara proses pelembagaan, transmisi, pembiasaan, dan keberlanjutan praktik ketika kontrol institusional berkurang masih relatif kurang dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme organisasional pelaksanaan, transmisi melalui manhaj al-talaqqi, serta strategi santriwati mempertahankan praktik di dalam dan di luar pesantren. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap enam informan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik dengan perspektif Living Hadith dan teori habitus Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Ma’tsurat telah terinstitusionalisasi sejak 2017 melalui pengelolaan OPPM, pembagian tugas, pengawasan, dan evaluasi. Transmisi berlangsung melalui talaqqi yang lebih menekankan ketepatan lafal dan pembiasaan daripada pemahaman makna. Namun, pengulangan rutin, pengalaman spiritual, dukungan teman sebaya, dan strategi pengaturan diri memungkinkan sebagian santriwati mempertahankan praktik ketika berada di luar pesantren. Novelty penelitian terletak pada penjelasan integratif mengenai perpindahan praktik dari struktur institusional menuju agensi santri melalui pembentukan disposisi keagamaan. Dengan demikian, penelitian ini memperlihatkan bahwa praktik tidak sekadar diwariskan, tetapi direproduksi secara adaptif.