Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berbahasa Indonesia siswa serta mengidentifikasi implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 27 Takalar. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi kebahasaan siswa yang sebagian besar merupakan masyarakat asli Takalar dan terbiasa menggunakan bahasa Makassar dalam komunikasi sehari-hari, sementara bahasa Indonesia digunakan secara lebih intensif dalam lingkungan sekolah dan pembelajaran formal. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui observasi pembelajaran, tugas berbahasa, wawancara dengan siswa dan guru, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan memfokuskan kajian pada keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa Indonesia siswa bervariasi pada keempat keterampilan tersebut. Keterampilan menyimak dan membaca secara umum telah berkembang pada kemampuan dasar, sedangkan keterampilan berbicara dan menulis memerlukan penguatan lebih lanjut. Pada keterampilan berbicara, sebagian siswa mampu berkomunikasi secara aktif dalam lingkungan sehari-hari, tetapi masih menunjukkan keraguan, keterbatasan kosakata, dan kurang percaya diri ketika menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi akademik seperti diskusi dan presentasi. Pada keterampilan menulis, ditemukan kesulitan dalam mengembangkan gagasan, menyusun kalimat secara efektif, serta menggunakan ejaan dan tanda baca secara konsisten. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Makassar dalam kehidupan sehari-hari merupakan bagian dari pengalaman linguistik dan sosial-budaya siswa, sedangkan perbedaan konteks penggunaan bahasa menyebabkan siswa memerlukan pembiasaan dalam menggunakan bahasa Indonesia secara aktif dan formal. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia perlu dirancang secara kontekstual, komunikatif, bertahap, dan responsif terhadap latar belakang kebahasaan siswa. Pembelajaran juga perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk berlatih berbicara, berdiskusi, membaca, dan menulis dalam berbagai konteks akademik tanpa mengabaikan keberadaan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya siswa.