Muhammad Sholahuddin Ali
Fakultas Ushuludin dan Adab, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KONSEP PENCIPTAAN MANUSIA MENURUT AL-QUR’AN DAN TEORI EVOLUSI DALAM PERSPEKTIF TAFSIR ILMI: STUDI KOMPARATIF ANTARA TAFSIR AL-MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB DAN BUKU KERUNTUHAN TEORI EVOLUSI KARYA HARUN YAHYA Muhammad Hotibul Umam; Muhammad Faris Al-Fajri Arifin; Attoriq Islami Pasha; Muhammad Sholahuddin Ali; Andi Rosa
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 2 (2026): Juni: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i2.257

Abstract

Perdebatan mengenai asal-usul manusia merupakan salah satu titik temu paling krusial antara wacana keagamaan dan ilmu pengetahuan modern. Kajian ini menelaah secara komparatif bagaimana konsep penciptaan manusia diartikulasikan dalam dua karya berpengaruh: Tafsir Al-Misbah oleh M. Quraish Shihab dan Runtuhnya Teori Evolusi oleh Harun Yahya. Dengan menggunakan kerangka tafsir ilmi sebagai pisau analisis, penelitian ini menelusuri bagaimana masing-masing penulis menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan penciptaan Nabi Adam, sekaligus merespons klaim-klaim ilmiah teori evolusi Darwin. Metode yang digunakan adalah analisis konten kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan komparatif. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa Quraish Shihab membangun argumen melalui dialog terbuka antara teks wahyu dan temuan sains, mengambil posisi yang berhati-hati tanpa tergesa-gesa menyimpulkan pertentangan. Sebaliknya, Harun Yahya menempatkan diri sebagai penolak total evolusi dengan pendekatan yang lebih apologetis dan polemis. Kedua penulis sama-sama memanfaatkan tradisi tafsir ilmi, namun bertolak dari premis epistemologis yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang divergen. Artikel ini menyimpulkan bahwa dialog antara agama dan sains dalam konteks penciptaan manusia membutuhkan kerangka metodologis yang lebih integratif dan jujur secara ilmiah, bukan sekadar konfrontatif. Relevansi tafsir ilmi dalam menjawab polemik manusia pertama tetap signifikan, sepanjang ditopang oleh pemahaman sains yang memadai dan kematangan hermeneutika teks.