Penggunaan bahasa kurang sopan yang dipengaruhi lingkungan teman sebaya dan media sosial memicu terjadinya penurunan moral berupa konflik antar-siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, rasional penelitian ini adalah pentingnya menanamkan etika komunikasi sejak dini melalui pengondisian ekosistem bahasa yang positif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses implementasi, mengidentifikasi nilai karakter yang ditanamkan, serta menganalisis dampak pembiasaan berbahasa santun pada siswa. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Penelitian dilaksanakan di SDN Kapasari VIII Surabaya. Subjek dan sumber data melibatkan guru kelas III sebagai sumber data primer serta dokumen kurikulum sebagai data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi pasif, wawancara terstruktur, dan analisis dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi pedoman lembar observasi, kuesioner, dan panduan wawancara. Teknik analisis data menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembiasaan berbahasa santun diintegrasikan secara holistik melalui budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun), aktivitas literasi pagi, dan penggunaan atribut visual 5 Kata Ajaib. Nilai karakter utama yang berhasil dikembangkan meliputi kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, kesopanan, dan empati. Dampak implementasi menunjukkan perubahan perilaku siswa ke arah positif berupa peningkatan kesantunan berbahasa, serta berkurangnya konflik sosial di kelas. Simpulan penelitian ini adalah pembiasaan berbahasa santun terbukti efektif menginternalisasi nilai moral secara berkelanjutan. Peneliti menyarankan agar guru mempertahankan konsistensi keteladanan berbahasa, dan sekolah disarankan memperkuat kerja sama dengan orang tua demi menjaga kesinambungan pembiasaan di rumah.