Susmihara
Program Pascasarjana Dirasah Islamiyah Konsentrasi Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dari Bandar ke Kesultanan: Transformasi Kota Dagang Menjadi Kerajaan Islam Muhammad Farid Wajdi; Syahdino Sahdana; Susmihara
Nurani : Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual Vol. 1 No. 3 (2026): September: Nurani: Jurnal Studi Agama dan Peradaban Spiritual
Publisher : Lembaga Penerbit Penelitian Multidisipliner

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67096/nurani.v1i3.368

Abstract

Transformasi kawasan pesisir di Nusantara dari pelabuhan dagang (bandar) menjadi pusat kekuasaan politik berupa kesultanan merupakan salah satu fenomena paling krusial dalam historiografi Islamisasi di Asia Tenggara. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme perubahan struktural kota-kota dagang menjadi entitas politik Islam (kesultanan) serta mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang mendorong konversi tersebut. Dengan menggunakan metode penelitian sejarah kritis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi penelitian ini mengkaji dinamika sosiopolitik dan ekonomi di beberapa bandar utama seperti Samudera Pasai, Malaka, Demak, dan Banten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi dari bandar menjadi kesultanan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses dialektika yang melibatkan konversi agama para penguasa lokal, integrasi hukum Islam (syariat) dalam hukum laut dan perdagangan, serta pembentukan legitimasi politik baru yang berbasis kosmologi Islam. Kehadiran komunitas Muslim transnasional (pedagang, ulama, dan sufi) bertindak sebagai katalis ekonomi sekaligus agen ideologis. Proses ini pada akhirnya melahirkan model kota Islam Nusantara yang khas, di mana fungsi ekonomi (pasar dan pelabuhan) berpadu secara simetris dengan pusat kekuasaan (istana/keraton) dan pusat spiritual (masjid agung). Transformasi ini tidak hanya mengubah lanskap tata ruang kota, tetapi juga mereformasi struktur sosial dan memicu pergeseran geopolitik global di Selat Malaka dan Laut Jawa pada Abad XIII – XVI.