Efisiensi sistem pendingin merupakan faktor utama yang menentukan keselamatan termal serta keandalan operasi reaktor riset. Pada reaktor di Indonesia, seperti Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS), pendinginan dilakukan melalui sirkulasi fluida bertekanan pada sistem primer dan sekunder yang digerakkan secara aktif oleh pompa. Perkembangan teknologi reaktor modern telah memperkenalkan konsep sistem pendingin pasif, yang bekerja berdasarkan mekanisme alamiah seperti konveksi dan perbedaan densitas fluida tanpa memerlukan energi eksternal. Beberapa studi global yang diinisiasi oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) menunjukkan bahwa sistem ini mampu mempertahankan pelepasan panas peluruhan (decay heat removal) dalam jangka waktu lama saat terjadi kehilangan daya total (station blackout). Namun, implementasi teknologi serupa di Indonesia masih terbatas pada tahap perancangan konseptual dan studi simulatif. Secara umum, sistem pendingin aktif pada reaktor riset nasional telah menunjukkan kinerja stabil lebih dari tiga dekade, tetapi belum ada penelitian komprehensif yang menilai potensi penerapan sistem pendingin pasif pada desain reaktor nasional. Kondisi ini menimbulkan celah penelitian (research gap) mengenai bagaimana teknologi pendingin pasif dapat mendukung peningkatan keselamatan termal di Indonesia serta memperkokoh keamanan energi nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik sistem pendingin aktif dan pasif, mengidentifikasi kekuatan serta keterbatasan masing-masing, dan mengevaluasi potensi penerapan sistem pendingin pasif dalam rancangan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) sebagai instrumen pertahanan non-militer. Kajian dilakukan menggunakan metode systematic literature review terhadap sumber-sumber terbuka dari BRIN, IAEA, dan jurnal ilmiah internasional dengan analisis perbandingan kualitatif. Hasil penelitian diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan sistem pendingin reaktor riset yang lebih aman, efisien, berdaya adaptif terhadap kondisi operasi nasional, serta tangguh terhadap ancaman kontinjensi.