Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perancangan Pemilihan Lokasi Gudang Pendukung Dalam Pengelolaan Material Pemeliharaan Pembangkit Listrik Tersebar Berdasarkan Analytic Hierarchy Process Dan Goal Programming: (Studi Kasus : PT. PLN Nusantara Power Up Pandan) Erwan Aprianto; Udisubakti Ciptomulyono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2121

Abstract

PT PLN Nusantara Power’s Pandan Generation Unit (UP Pandan) manages various Hydropower Plants (PLTA) and Mini-Hydropower Plants (PLTMH) distributed across ten regencies in North Sumatra Province. Ensuring the availability of spare parts for maintenance activities is crucial for maintaining the continuity of the electrical system. However, the dispersed nature of these power plants presents challenges regarding distribution distances, travel risks, transit times, and logistics costs. These complexities are compounded by a storage structure split between a central warehouse and stock points at individual generation units. Establishing a sub-warehouse offers a potential solution to minimize distance, time, risk, and cost through strategic location selection. This study aims to determine the optimal sub-warehouse location by evaluating criteria such as distance, travel time, transportation costs, and risk, utilizing the Analytic Hierarchy Process (AHP) and Goal Programming (GP) methods. AHP results indicate that risk is the highest-priority criterion (0.67427 or 67.43%), followed by distance from the central warehouse (0.12602 or 12.60%), transportation costs (0.12099 or 12.10%), and travel time (0.07871 or 7.87%). These weights were subsequently integrated into a GP model to evaluate three potential locations. The optimization results identified the Renun Hydropower Plant (X₂) as the best location for the sub-warehouse. Sensitivity analysis, involving a ±20% variation in risk weights, confirmed that the results remained consistent and feasible. Consequently, the Renun Hydropower Plant can effectively support the central warehouse in distributing spare parts to the dispersed power plants, thereby enhancing the reliability of maintenance and operational services across all managed generation units.
Model Intergrasi AHP-COPRAS dan Clustering Untuk Analisis Penugasan: (Studi Kasus: PLTS Berbasis Gap Kompetensi) Rouly Manurung; Udisubakti Ciptomulyono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2122

Abstract

Transisi energi nasional menuntut transformasi kompetensi SDM PLN, khususnya pada proyek strategis PLTS Terapung Cirata. Penelitian ini mengembangkan model penugasan terintegrasi yang menggabungkan Analisis Gap Kompetensi (AGK), Analytic Hierarchy Process (AHP), Complex Proportional Assessment (COPRAS), K-Means Clustering, dan Canonical Variate Analysis (CVA). Data dikumpulkan dari 55 responden karyawan dan 4 pakar melalui expert judgment. Hasil menunjukkan defisit terbesar pada Safety Management System/SMS (gap 2,145) dan Environmental Impact Assessment/EIA (2,091), yang secara fundamental disebabkan oleh pergeseran DNA operasional dari pembangkit konvensional ke lingkungan akuatik. Agregasi AHP menghasilkan bobot konsisten (CR = 0,0016) dengan dominasi Sertifikasi EBT (0,358). COPRAS, yang diunggulkan dalam menangani kriteria cost dibandingkan metode kompromi lain, mengidentifikasi K-08 dan K-36 sebagai talenta puncak. Segmentasi k-means menghasilkan tiga klaster yang diterjemahkan menjadi strategi penugasan diferensial: fast-track (6 orang), bridging (36 orang), dan reskilling (13 orang). Validasi CVA (Wilks' Lambda = 0,154, p < 0,001) mengonfirmasi SMS dan EIA sebagai diskriminator utama. Model ini menghasilkan fungsi klasifikasi yang diintegrasikan ke dalam HXMS PLN untuk screening real-time, mendukung transisi energi nasional.
Evaluasi Intensitas Kontribusi Komponen Teknologi pada Kawasan Sains dan Teknologi Menggunakan Ordinal Priority Approach Rizal Kurniawan; Udisubakti Ciptomulyono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v5i3.2140

Abstract

Kawasan Sains Teknologi (KST) atau Science and Technology Park (STP) di Indonesia menghadapi tantangan keterbatasan sumber daya, sehingga memerlukan strategi prioritisasi kapabilitas internal yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menetapkan urutan prioritas pengembangan komponen-komponen kapabilitas internal KST berdasarkan pendekatan teknometrik. Kerangka kerja Technology Component System Framework (TCSF) digunakan untuk mengklasifikasikan sistem teknologi KST ke dalam lima komponen (Technoware, Humanware, Inforware, Orgaware, dan Cysnetware). Evaluasi multi-kriteria dilakukan menggunakan metode Ordinal Priority Approach (OPA) berbasis linear programming untuk mengakomodasi 3 unsur pengambilan keputusan termasuk hierarki expert di dalam KST. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa komponen Humanware mendominasi sebagai prioritas utama dengan nilai intensitas kontribusi sebesar 0,4054. Komponen Technoware (0,1874), Orgaware (0,1780), dan Inforware (0,1772) berada pada tingkatan tengah dengan nilai kontribusi relatif seimbang, sementara Cysnetware memiliki tingkat prioritas terendah (0,0520). Temuan ini mengonfirmasi teori siklus hidup organisasi di mana pengembangan human capital harus dibangun sebagai fondasi utama sebelum pemenuhan infrastruktur fisik dan digital. Konfigurasi bobot yang dihasilkan dapat menjadi panduan dan acuan prioritas alokasi sumber daya bagi pengelola KST maupun pembuat kebijakan dalam perencanaan pengembangan kawasan menuju fase operasional penuh.