Kelelawar (Chiroptera) memegang peranan ekologis vital sebagai penyebar biji,penyerbuk, dan pengendali biologis populasi serangga, namun ketersediaan data empirismengenai keanekaragamannya di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten TimorTengah Utara masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkatkeanekaragaman jenis, struktur komunitas, serta preferensi habitat kelelawar di KabupatenTimor Tengah Utara sebagai basis data kelelawar di pulau timor. Pengambilan datadilaksanakan pada Maret–April 2026 di empat lokasi pengamatan, yaitu Gua St. Maria Bitauni,Desa Loeram, Desa Oenbit, dan Desa Maubesi yang mewakili tiga tipe habitat (hutan primer,hutan sekunder, dan gua). Pengambilan data dilakukan menggunakan jaring kabut (misnet) danperangkap harpa (harpa trap). Hasil penelitian mencatat 87 individu kelelawar dari 6 jenis dan4 famili meliputi : Taphozous longimanus (Emballonuridae), Miniopterus australis(Miniopteridae), Rhinolophus cf. keyensis (Rhinolophidae), Rousettus amplexicaudatus,Macroglossus minimus, dan Cynopterus nusatenggara (Pteropodidae). Nilai indekskeanekaragaman jenis (H') kumulatif sebesar 1,37, indeks kemerataan (E) sebesar 0,66, indekskekayaan jenis (Dmg) sebesar 1,12, dan indeks dominansi (C) sebesar 0,29. Kesamaankomunitas tertinggi ditemukan antara Desa Loeram dan Desa Oenbit (0,75) yang didorong olehkesamaan tipe habitat berupa gua di dalam kawasan hutan. Temuan ini menegaskan pentingnyakeberadaan habitat gua dan tutupan hutan yang terjaga dalam menopang kelestariankeanekaragaman kelelawar di Pulau Timor.Kata kunci: Chiroptera, hotspot, kesamaan komunitas, sunda kecil.