This Author published in this journals
All Journal SOSHUM
Yohakim Tekege
STK Touye Paapaa Deiyai, Keuskupan Timika

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

GENERASI MUDA MEE DAN ERA DIGITAL: TANTANGAN KARAKTER, PENDIDIKAN, DAN BUDAYA DI PAPUA TENGAH Yohakim Tekege
Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM) Vol. 3 No. 2 (2026): Social Studies and Humanities Journal (SOSHUM)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/6312cq44

Abstract

Papua Tengah, sebagai wilayah hunian utama suku Mee, mengalami transformasi digital yang mengubah lanskap sosial-budaya masyarakat adat yang selama berabad-abad mengandalkan sistem transmisi oral, praktik ritual, dan ekonomi subsisten. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara holistik bagaimana era digital mempengaruhi pembentukan karakter, sistem pendidikan, dan pelestarian budaya generasi muda Mee. Penelitian menggunakan pendekatan etnografi digital dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 53 partisipan 28 generasi muda Mee (usia 15–30 tahun), lima tokoh adat, dua belas pendidik, dan delapan orang tua di Kabupaten Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai, dan Intan Jaya selama Januari–September 2025, disertai observasi partisipatif offline dan analisis jejak digital di TikTok, Instagram, WhatsApp, dan Facebook. Analisis tematik berbasis grounded theory menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, era digital menghasilkan dualitas karakter: memperkuat kemandirian dan kewirausahaan digital, namun juga memicu individualisme dan erosi nilai komunal seperti yawee. Kedua, sistem pendidikan formal menghadapi ketimpangan struktural tiga lapis kurikulum nasional yang tidak responsif secara lokal, infrastruktur digital yang timpang, dan kesenjangan literasi digital antargenerasi guru–siswa. Ketiga, budaya Mee mengalami rekontekstualisasi ambivalen: praktik tradisional mulai terdokumentasi secara digital, namun diiringi penurunan partisipasi ritual dan pergeseran bahasa dari Mee ke Indonesia/Inggris. Penelitian ini mengusulkan konsep Digital Indigenous Identity, integrasi Third Space (Bhabha) dan Digital Anthropology (Horst & Miller), untuk menjelaskan posisi hybrid generasi muda Mee. Temuan ini memberikan implikasi bagi desain pendidikan berbasis budaya lokal yang integratif dengan teknologi serta strategi pelestarian pengetahuan tradisional melalui platform digital.