Limited and unstable musician availability presents a recurring challenge to the music ministry at GBI Rock BSD City because the church previously lacked a flexible and reusable playback system. Stems-based playback is a music playback system that separates instrumental elements into audio groups that can be activated or deactivated according to the available musician lineup. This community service program aimed to provide music technology assistance through the implementation of stems-based playback at GBI Rock BSD City when the musician lineup was incomplete. The program comprised partner-needs identification, repertoire curation, stem production, Ableton Live template development, technical assistance for one initial operator, trials in three worship services, and descriptive qualitative evaluation based on team observations and partner feedback. The program produced a bank of 16 worship songs in stem format, a playback template, and initial use during worship services. The trials indicated that the system could provide flexible instrumental support, although its use was not yet fully stable in live musical practice. The main challenge concerned performer synchronization because adequate click tracks, count-ins, vocal cues, and monitoring were not yet available. Further development should focus on improving audio guidance, establishing operating procedures, conducting joint rehearsals, and preparing an additional operator. Abstrak Keterbatasan dan ketidakstabilan formasi pemusik menjadi salah satu kendala dalam pelayanan musik di GBI Rock BSD City karena belum tersedia sistem playback yang fleksibel dan dapat digunakan kembali. Playback berbasis stems merupakan sistem pemutaran musik yang memisahkan unsur instrumental ke dalam beberapa kelompok audio sehingga dapat diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai dengan formasi pemusik yang tersedia. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan melaksanakan pendampingan teknologi musik melalui implementasi playback berbasis stems di GBI Rock BSD City ketika formasi pemusik tidak lengkap. Pelaksanaan kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan mitra, kurasi repertoar, produksi stems, penyusunan template Ableton Live, pendampingan teknis kepada satu operator awal, uji coba dalam tiga ibadah, serta evaluasi deskriptif-kualitatif berdasarkan pengamatan tim dan umpan balik mitra. Kegiatan menghasilkan bank data 16 lagu ibadah dalam format stems, template playback, dan pengalaman penggunaan awal dalam ibadah. Hasil uji coba menunjukkan bahwa sistem dapat memberikan dukungan instrumental secara fleksibel, tetapi penggunaannya belum sepenuhnya stabil dalam praktik musikal. Kendala utama berkaitan dengan sinkronisasi pemusik karena belum tersedianya click track, count-in, cue vokal, dan sistem monitoring yang memadai. Pengembangan lanjutan perlu diarahkan pada penyempurnaan panduan audio, penyusunan prosedur operasional, latihan bersama, dan penyiapan operator tambahan.