Sistem kelistrikan Pulau Nias merupakan sistem kelistrikan terisolasi yang masih didominasi oleh pembangkit berbasis bahan bakar fosil, sehingga menyebabkan biaya pembangkitan dan emisi karbon yang relatif tinggi. Di sisi lain, potensi energi surya di wilayah tersebut memberikan peluang untuk memanfaatkan sistem Solar Photovoltaic (PV) guna mendukung transisi energi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konfigurasi optimal sistem hibrida yang terdiri atas PLTS, Battery Energy Storage System (BESS), dan pembangkit eksisting dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, teknis, dan lingkungan. Optimasi dilakukan menggunakan HOMER Pro berdasarkan profil beban, potensi energi surya, karakteristik pembangkit, serta parameter ekonomi dan operasional. Selanjutnya, keandalan konfigurasi hasil optimasi dievaluasi menggunakan DIgSILENT PowerFactory melalui analisis respons frekuensi dan tegangan. Hasil optimasi menghasilkan konfigurasi dengan kapasitas PLTS sebesar 40 MWp dan BESS sebesar 70 MWh, dengan Renewable Fraction sebesar 15,8%. Konfigurasi tersebut mampu menurunkan Levelized Cost of Energy (LCOE) sebesar 16,25%, dari Rp4.456/kWh menjadi Rp3.732/kWh, serta mengurangi emisi CO₂ sekitar 22,54% dibandingkan kondisi sistem eksisting. Hasil simulasi stabilitas menunjukkan bahwa ketika terjadi penurunan keluaran PLTS sebesar 75%, frekuensi minimum mencapai 49,49 Hz dan tegangan turun hingga 69,89 kV sebelum kembali stabil. Hasil tersebut menunjukkan bahwa integrasi PLTS dan BESS dapat mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil serta menekan emisi karbon dengan tetap mempertahankan stabilitas sistem kelistrikan Nias.