Warih Tjahjono
RSUD Panembahan Senopati Bantul

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Tantangan Penatalaksanaan Ruptur Varises Esofagus dengan Koeksistensi Candidiasis Esofagus : Laporan Kasus Nabila Rafif Nugroho; Warih Tjahjono
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 13 No 1 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 13.1 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v13i1.1150

Abstract

Pendahuluan: Ruptur varises esofagus merupakan komplikasi dari hipertensi portal yang berkaitan dengan penyakit hati kronis, seperti hepatitis B. Endoscopic variceal ligation (EVL) merupakan salah satu tata laksana standar untuk kondisi ini. Namun, koeksistensi infeksi oportunistik, seperti kandidiasis esofagus akut, dapat menjadi tantangan klinis saat prosedur invasif. Laporan kasus ini memaparkan penatalaksanaan kedaruratan ruptur varises esofagus dengan koeksistensi kandidiasis esofagus yang disertai perdarahan aktif selama ligasi. Ilustrasi Kasus: Seorang laki-laki 52 tahun dengan sirosis hepatis terkait hepatitis B dirawat karena demam, diare, dan nyeri perut. Endoskopi menunjukkan varises esofagus tanpa infeksi jamur. Dua minggu kemudian, pasien kembali karena melena masif akibat ruptur varises. Saat EVL, ditemukan kandidiasis esofagus yang sebelumnya tidak terdeteksi. Varises berubah dari F3 menjadi F2 dan terjadi perdarahan aktif pada mukosa yang dimanipulasi sehingga ligasi terpaksa ditunda. Penanganan difokuskan pada resusitasi hemodinamik, pemberian asam traneksamat, transfusi darah, dan terapi suportif. Pasien berhasil distabilkan dan dipulangkan dengan terapi rawat jalan. Diskusi: Kandidiasis esofagus akut memicu inflamasi dan ulserasi mukosa. Koeksistensi kondisi ini dengan ligation-induced ulcer akibat tindakan EVL akan meningkatkan kerapuhan mukosa dan risiko perdarahan. Pada kegagalan prosedur akibat komplikasi mukosa, penundaan tindakan invasif dengan fokus pada resusitasi dan stabilitas klinis menjadi langkah utama. Simpulan: Kasus ini menyoroti progresivitas cepat infeksi oportunistik pada pasien sirosis dengan imunokompromais. Stabilitas hemodinamik perlu diprioritaskan sebelum tindakan invasif direncanakan ulang, dengan keputusan klinis yang fleksibel sesuai kondisi pasien.