This study examines K.H. Bisri Mustofa’s interpretation of Qur’anic verses concerning orphans (yatāmā) in Tafsīr Al-Ibrīz fī Ma‘rifat Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz, a local Javanese exegesis written in the Arabic Pegon script. The study employs qualitative library research and a thematic (mawḍū‘ī) approach. The analysis identifies and classifies verses related to orphans, examines Bisri Mustofa’s interpretations, and analyzes the linguistic registers used in Al-Ibrīz. The findings show that Bisri Mustofa defines an orphan as a child whose father dies before the child reaches puberty. The termination of orphan status is also associated with the capacity to manage one’s affairs. His interpretation emphasizes protection, moral education, proper management of orphans’ property, and the prohibition of exploitative or violent treatment. The study also finds that the use of Javanese speech levels—Krama Inggil, Krama, Madya, and Ngoko—functions rhetorically according to the interlocutors and the moral force of the verse. This linguistic strategy makes Qur’anic messages on orphan care more accessible to Javanese readers and demonstrates the sociocultural character of local Qur’anic interpretation. Abstrak: Penelitian ini mengkaji penafsiran K.H. Bisri Mustofa terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang yatāmā dalam Tafsīr Al-Ibrīz fī Ma‘rifat Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz, sebuah tafsir lokal berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab Pegon. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dan metode tafsir tematik (mawḍū‘ī). Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengelompokkan ayat-ayat tentang yatim, menelaah penafsiran Bisri Mustofa, serta menganalisis tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan dalam Al-Ibrīz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bisri Mustofa mendefinisikan yatim sebagai anak yang kehilangan ayah sebelum mencapai usia balig dan memiliki kecakapan mengelola urusannya. Penafsirannya menekankan perlindungan diri, pembinaan moral, pemeliharaan harta, serta larangan melakukan tindakan eksploitatif dan sewenang-wenang terhadap anak yatim. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa—Krama Inggil, Krama, Madya, dan Ngoko disesuaikan dengan pihak yang berdialog dan kekuatan pesan moral ayat. Strategi kebahasaan tersebut memudahkan pembaca Jawa memahami pesan Al-Qur’an tentang pemeliharaan anak yatim sekaligus menegaskan karakter sosiokultural tafsir lokal.