Rusli
Universitas Gajah Putih

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Carbon Smart Agroforestry: Kopi Gayo sebagai Solusi Rehabilitasi Pasca Bencana Hidrometeorologi Budiyono Budiyono; Fauzi U; Rusli; Idham N; Eliyin
Jurnal Agroteknologi Pertanian & Publikasi Riset Ilmiah Vol 8 No 2 (2026): Juli : Jurnal Agroteknologi  Pertanian dan Publikasi Riset Ilmiah
Publisher : Universitas Gajah Putih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55542/3bfg2757

Abstract

Penelitian ini mengkaji efektivitas Model Carbon Smart Agroforestry berbasis kopi Gayo sebagai strategi rehabilitasi pasca bencana, mitigasi iklim, dan penguatan ekonomi hijau berbasis kelembagaan lokal. Sistem agroforestri multistrata kopi–pinus–aren–kapulaga terbukti meningkatkan fungsi ekologis dengan rata-rata tutupan vegetasi mencapai 71%, laju infiltrasi tanah 18,4 mm/jam, serta penurunan erosi hingga 40% dibandingkan monokultur kopi. Kapasitas serapan karbon tercatat 12–15 ton CO?/ha/tahun dengan cadangan karbon total 52 ton C/ha (?190 ton CO?e/ha), yang berpotensi dikonversi menjadi carbon credit komunitas senilai US$ 18.000–20.000/tahun pada luasan ±200 ha. Dari sisi ekonomi, diversifikasi kopi, aren, dan kapulaga menghasilkan pendapatan rata-rata Rp 100 juta/ha/tahun dengan arus kas berlapis yang memperkuat ketahanan rumah tangga dan mempercepat pencapaian titik impas usaha. Aspek sosial menunjukkan partisipasi aktif ?200 petani, pembentukan dua koperasi agroforestri berbasis adat, serta peran kelembagaan lokal (Sarak Opat) dalam menjaga legitimasi sosial, koordinasi teknis, pemasaran, dan pengawasan tata ruang. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa Carbon Smart Agroforestry berbasis kopi Gayo merupakan model integratif yang mampu memulihkan ekologi, meningkatkan serapan karbon, memperkuat ekonomi hijau, dan menegakkan legitimasi sosial berbasis kelembagaan lokal. Model ini relevan untuk mendukung pencapaian FOLU Net Sink 2030 dan target SDGs 13 (Climate Action) serta SDGs 15 (Life on Land), sekaligus membuka peluang integrasi komunitas lokal ke dalam pasar karbon global