Arya Tito Hanafi
Program Magister Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas, Padang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gadih Gadang Alun Balaki dalam Perspektif Budaya dan Sosial: Studi tentang Konstruksi Perempuan Belum Menikah di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Arya Tito Hanafi; Jendrius Jendrius; Bob Alfiandi
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Nusantara (Januari - Maret 2026)
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jpkn.v4i1.3867

Abstract

Fenomena perempuan memilih untuk belum menikah atau menunda pernikahan mengalami peningkatan seiring modernisasi, meningkatnya akses pendidikan, dan kemandirian ekonomi perempuan. Dalam masyarakat Minangkabau, terdapat konsep adat Gadih Gadang Alun Balaki yang merujuk pada perempuan dewasa yang belum menikah dan sering kali dilekatkan dengan stigma sosial serta dianggap mencoreng marwah keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana perempuan Gadih Gadang Alun Balaki memaknai statusnya, merespons tekanan sosial, melihat respons keluarga, serta memahami pilihan rasional di balik keputusan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status Gadih Gadang Alun Balaki tidak lagi sepenuhnya dimaknai sebagai aib, tetapi sebagai ruang untuk memperoleh otonomi hidup, kebebasan personal, dan pencapaian karier. Perempuan membangun strategi adaptif dan narasi tandingan untuk menghadapi tekanan sosial. Keluarga juga mengalami perubahan sikap dari tekanan menuju dukungan melalui negosiasi antara nilai adat dan pilihan personal anak. Berdasarkan Teori Pilihan Rasional James Coleman, keputusan untuk tetap melajang dipahami sebagai pilihan rasional yang mempertimbangkan keuntungan dan kerugian, serta berkontribusi pada pergeseran norma usia pernikahan dalam masyarakat Minangkabau.