Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk partisipasi masyarakat Suku Kamoro dalam program pemberdayaan serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat partisipasi tersebut di Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap delapan informan, yang terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam berbagai aspek seperti ekonomi, pendidikan, dan budaya. Partisipasi masyarakat cenderung tinggi ketika program disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan melibatkan masyarakat secara langsung. Faktor pendukung partisipasi antara lain adanya aset lokal yang potensial, semangat gotong royong, dan peran aktif tokoh adat. Sementara itu, faktor penghambat meliputi keterbatasan informasi, rendahnya pendidikan, budaya paternalistik, dan dominasi pengambilan keputusan oleh elit lokal. Analisis menggunakan Teori Partisipasi (Arnstein) menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat berada pada level kemitraan dan pendelegasian wewenang, meskipun belum menyeluruh. Teori Pemberdayaan (Chambers) menguatkan bahwa partisipasi aktif dapat meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Sementara itu, Teori Interaksi Sosial digunakan untuk menjelaskan alasan ketidakterlibatan sebagian warga, khususnya karena kurangnya komunikasi sosial dan eksklusi dalam jaringan partisipatif. This study aims to determine the forms of participation of the Kamoro people in empowerment programs and to identify factors that support and inhibit such participation in Iwaka District, Mimika Regency, Central Papua Province. A qualitative descriptive method was used, with data collection techniques including observation, in-depth interviews, and documentation with eight informants, consisting of traditional leaders, community leaders, and local residents. The results indicate that community empowerment is carried out in various aspects, including economic, educational, and cultural aspects. Community participation tends to be high when programs are tailored to local needs and directly involve the community. Supporting factors for participation include the existence of potential local assets, a spirit of mutual cooperation, and the active role of traditional leaders. Meanwhile, inhibiting factors include limited information, low education, a paternalistic culture, and the dominance of decision-making by local elites. Analysis using Arnstein's Participation Theory indicates that community participation is at the level of partnership and delegation of authority, although not yet comprehensive. Chambers' Empowerment Theory confirms that active participation can increase community capacity and independence. Meanwhile, Social Interaction Theory is used to explain the reasons for the disengagement of some residents, particularly due to a lack of social communication and exclusion within participatory networks.