Imron Syaeful Umam
Pendidikan Profesi Guru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo,Sukojarjo,Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Integrasi Nilai-Nilai Ki Hajar Dewantara dalam Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Mewujudkan Merdeka Belajar pada Siswa Kelas V Imron Syaeful Umam; Annisa Prima Exacta; Dian Eskanandy
CARONG: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Isu dan Tantangan Kontemporer dalam Pendidikan, Ilmu Sosial, da
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/kp6pxe55

Abstract

Dalam pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara, setiap peserta didik dipandang sebagai pribadi yang harus dituntun sesuai kodrat, kebutuhan, dan potensi yang dimilikinya, sebuah pandangan yang selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi karena turut mengakomodasi perbedaan kesiapan, minat, dan karakteristik belajar siswa. Penelitian ini dilakukan untuk memotret penerapan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara pada pembelajaran Pendidikan Pancasila kelas V SDN Pandean 02, mengkaji keterkaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi dan merdeka belajar, serta menyusun rekomendasi yang bertolak dari kondisi nyata di kelas. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan data yang dihimpun melalui pengamatan pembelajaran dan wawancara bersama guru kelas V dan siswa. Data diolah melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan, sementara keabsahannya diperkuat lewat triangulasi teknik. Hasil kajian memperlihatkan bahwa integrasi nilai-nilai Ki Hajar Dewantara belum berlangsung secara maksimal. Terdapat empat pola yang muncul berulang, yakni siswa yang cenderung pasif, sebagian siswa yang masih mengandalkan jawaban teman, guru yang belum memetakan kebutuhan maupun profil belajar siswa secara sistematis, dan sebagian siswa yang enggan mencoba karena takut salah. Pola-pola tersebut mengindikasikan bahwa keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa, serta perwujudan merdeka belajar, belum sepenuhnya tercapai. Karena itu, penguatan pembelajaran perlu dilakukan melalui asesmen diagnostik, diferensiasi konten, proses, dan produk, ruang untuk berpikir mandiri sekaligus berkolaborasi, serta iklim kelas yang aman secara psikologis.