Modern aesthetic standards increasingly impose rigid physical expectations on women, creating a gap between societal pressure for superficial conformity and spiritual models of self-worth. To address this issue, this study aims to analyze how young women in the Gethsemane Lasampi Congregation interpret beauty amidst prevailing secular aesthetic norms, examining their perspectives through a feminist theological lens. Employing a qualitative research methodology, data was collected through in-depth interviews with five informants categorized across different age groups (late adolescence to mature adulthood). The findings reveal a significant evolution in inner consciousness across age demographics: while late adolescents (18 years old) acknowledge strong social pressure to prioritize physical appearance for social adaptation, mature adults redefine beauty as a holistic, interactional experience grounded in faith, inner peace, noble character, and altruistic actions. Crucially, this study demonstrates that Christian spiritual values function as a vital cognitive and spiritual filter against external aesthetic pressures. As its key contribution, the research highlights how the Gethsemane Lasampi Congregation operates as an inclusive "community of equals," dismantling visual discrimination and affirming women as independent spiritual subjects whose true beauty is expressed through egalitarian service and lived faith.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pemudi di Jemaat Getsemani Lasampi memaknai kecantikan di tengah kepungan standar estetika modern tersebut, serta membedahnya melalui perspektif teologi feminis. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap beberapa informan lintas kategori usia, penelitian ini menggali bagaimana nilai-nilai spiritualitas Kristen bertindak sebagai penyaring utama terhadap gempuran definisi kecantikan Hasil penelitian mengungkapkan adanya spektrum pemikiran yang kaya dan evolusi kesadaran batin dari para narasumber. Di satu sisi, kelompok usia remaja akhir (18 tahun) mengakui adanya tekanan sosial yang kuat untuk memprioritaskan kecantikan fisik demi adaptasi pergaulan. Di sisi lain, kelompok usia dewasa matang berhasil melakukan lompatanpemikiran dengan mendefinisikan kecantikan sebagai pengalaman interaksional yang holistikābersumber dari kedalaman iman, ketenangan batin, karakter yang luhur, serta tindakan konkret menolong sesama. Lebih lanjut, Jemaat Getsemani Lasampi terbukti mampu hadir sebagai komunitas iman yang inklusif (community of equals), di mana praktik diskriminasi visual diruntuhkan dan perempuan dirangkul secara setara sebagai subjek rohani yang mandiri dalam pelayanan berdasarkan kecantikan imanĀ mereka.