Putri Lia Farha
Universitas Mulawarman, Samarinda

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN GREEN DIGITAL SOCIETY READINESS DALAM MEMODERASI KEUNGGULAN KOMPETITIF UMKM DI WILAYAH PENYANGGA IKN Annisa Wahyuni Arsyad; Ummi Nadroh; Kayla Farya Arniandis; Putri Lia Farha
JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Vol 9, No 2 (2026): JIMB - VOLUME 9 NOMOR 2 SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37479/jimb.v9i2.41413

Abstract

UMKM di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara menghadapi tuntutan untuk meningkatkan daya saing melalui transformasi digital dan pengembangan inovasi yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh digital marketing, adopsi teknologi, dan inovasi produk terhadap keunggulan kompetitif UMKM, sekaligus menganalisis peran Green Digital Society Readiness sebagai variabel moderasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 98 UMKM di Samarinda dan Balikpapan yang telah memanfaatkan platform digital dan teknologi dalam aktivitas usahanya. Model dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan pendekatan konstruk orde kedua. Hasil struktural yang dilaporkan menunjukkan bahwa inovasi produk memiliki hubungan positif paling besar dengan keunggulan kompetitif (β = 0,379), diikuti digital marketing (β = 0,265), GDSR (β = 0,192), dan adopsi teknologi (β = 0,076). Efek moderasi GDSR relatif lemah, yaitu positif pada hubungan adopsi teknologi–keunggulan kompetitif (β = 0,060) dan digital marketing–keunggulan kompetitif (β = 0,031), tetapi negatif pada hubungan inovasi produk–keunggulan kompetitif (β = -0,072). Model melaporkan nilai R² sebesar 0,755 untuk keunggulan kompetitif. Temuan ini menunjukkan bahwa penciptaan nilai melalui inovasi produk tetap menjadi pengungkit utama daya saing UMKM, sedangkan kesiapan digital dan keberlanjutan lebih tepat dipahami sebagai kondisi pendukung yang efektivitasnya bergantung pada kapasitas implementasi pelaku usaha.