Maman Suryaman
Program Studi Magister Administrasi Pendidikan, Universitas Singaperbangsa Karawang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

DAMPAK SOSIAL EKONOMI DAN MITIGASI BANJIR BERULANG DI DESA KARANGLIGAR Ilma Novelia Winata; Arini Rahmawati; Fitri Sri Mulyani; Akhmad Rusbani; Maman Suryaman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12446

Abstract

River overflow flood disasters represent a serious hydrometeorological threat affecting Karawang Regency, particularly Karangligar Village. This periodic disaster severely disrupts the multidimensional fabric of community life, demanding comprehensive empirical investigation. This study aims to analyze social impacts, economic consequences, and evaluate mitigation strategies implemented by community and policymakers. This research applies a qualitative design using the case study method. Data collection techniques were conducted through participatory observation, in-depth interviews with key informants, and village archive documentation. Field investigation results indicate that recurrent flooding damages physical structures, disrupts basic educational access, triggers environmental disease outbreaks, and suppresses rural psychosocial stability. Financially, communities experience significant losses due to paddy crop failures, daily productivity decreases, and swelling post-disaster recovery expenses. Countermeasure efforts are carried out structurally through embankment reinforcement and non-structurally through independent preparedness simulations. Research recommendations emphasize the importance of strengthening community-based mitigation synergies integrated with sustainable governance. ABSTRAK Bencana banjir luapan sungai merupakan ancaman hidrometeorologi serius yang melanda Kabupaten Karawang, khususnya Desa Karangligar. Bencana periodik ini merusak tatanan hidup warga secara multidimensional sehingga memerlukan kajian komprehensif. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dampak sosial, konsekuensi ekonomi, serta mengevaluasi strategi mitigasi yang diterapkan masyarakat maupun pemangku kebijakan. Penelitian ini menerapkan rancangan kualitatif dengan metode case study. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap informan kunci, dan studi dokumentasi arsip desa. Hasil investigasi lapangan menunjukkan bahwa banjir berulang merusak bangunan fisik, memutus akses pendidikan dasar, memicu wabah penyakit lingkungan, serta menekan stabilitas psikososial warga pedesaan. Secara finansial, masyarakat mengalami kerugian signifikan akibat kegagalan panen padi, penurunan produktivitas kerja harian, dan membengkaknya biaya pemulihan pascabencana. Upaya penanggulangan dilakukan secara struktural melalui penguatan tanggul serta nonstruktural lewat simulasi kesiapsiagaan mandiri. Rekomendasi penelitian menekankan pentingnya penguatan sinergi mitigasi berbasis kearifan lokal yang terintegrasi tata kelola berkelanjutan.    
PERENCANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITALISASI UNTUK EFEKTIVITAS MANAJEMEN PEMBELAJARAN DI ERA SOCIETY 5.0 Fitri Sri Mulyani; Maman Suryaman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12499

Abstract

Digital transformation drives the reformation of modern educational governance as conventional models often burden teachers with administrative tasks. This study aims to analyze the integration of digitalization in lesson planning to improve the effectiveness of instructional management in the Society 5.0 era. The method used is a qualitative descriptive literature review of reputable scientific publications indexed by Scopus and Sinta from 2018 to 2025. The results indicate that digitalization shifts the function of planning from mere document compliance to an adaptive, data-analytic strategic instrument. The utilization of Learning Management Systems (LMS), Educational Management Information Systems (EMIS), cloud computing, and artificial intelligence is proven to significantly reduce educators' manual workloads. Furthermore, the digital ecosystem facilitates real-time instructional monitoring and evaluation, strengthens multi-stakeholder collaboration, and enhances the accuracy of educational managerial decision-making. The study concludes that digital planning is a fundamental pillar in realizing effective, inclusive, and flexible learning governance. Equitable infrastructure support and sustainable teacher digital competency development are necessary to maximize implementation across all national educational levels. ABSTRAK Transformasi digital mendorong reformasi tata kelola pendidikan modern karena model konvensional sering membebani guru secara administratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi digitalisasi dalam perencanaan pembelajaran guna meningkatkan efektivitas manajemen instruksional di era Society 5.0. Metode yang digunakan adalah kajian literatur deskriptif kualitatif terhadap publikasi ilmiah bereputasi terindeks Scopus dan Sinta pada rentang tahun 2018–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa digitalisasi menggeser fungsi perencanaan dari sekadar kepatuhan dokumen menjadi instrumen strategis berbasis data analitik yang adaptif. Pemanfaatan Learning Management System (LMS), Educational Management Information System (EMIS), cloud computing, serta artificial intelligence terbukti mampu memangkas beban kerja manual pendidik secara signifikan. Selain itu, ekosistem digital memfasilitasi monitoring dan evaluasi instruksional secara real-time, memperkuat kolaborasi multisektoral, serta meningkatkan akurasi pengambilan keputusan manajerial pendidikan. Penelitian menyimpulkan bahwa perencanaan digital merupakan pilar fundamental dalam mewujudkan tata kelola pembelajaran yang efektif, inklusif, dan fleksibel. Diperlukan dukungan infrastruktur merata serta peningkatan kompetensi digital pendidik yang berkelanjutan untuk memaksimalkan implementasi sistem ini pada seluruh jenjang satuan pendidikan nasional.    
TEACHER SHAMING DAN KRISIS RELASI PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL Siti Rahmah; Maman Suryaman
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12503

Abstract

Digital transformation has reshaped communication patterns in education while simultaneously increasing social media usage among students, parents, and the general public. Conversely, these developments have given rise to the phenomenon of "teacher shaming"—the act of humiliating or disparaging teachers via digital platforms. This study aims to analyze teacher shaming as an indicator of a crisis in educational relationships within the digital era, examine its impact on teacher well-being, and identify its implications for children's character development. The research employs a Systematic Literature Review (SLR) combined with an Integrative Literature Review, adhering to PRISMA 2020 guidelines. Data were sourced from Scopus, Web of Science, ERIC, and Google Scholar/Garuda (Sinta 1–4 accredited) databases, covering publications from 2018 to 2026. Thirty-two empirical articles meeting the inclusion criteria were analyzed using thematic analysis. The findings reveal that teacher shaming frequently occurs on TikTok, Instagram, Facebook, and parent WhatsApp groups, manifesting as verbal abuse, cyberbullying, the unauthorized sharing of videos, and negative comments directed at teachers. This phenomenon leads to increased stress, anxiety, and burnout, as well as reduced work motivation and job satisfaction among teachers. Furthermore, the normalization of teacher shaming contributes to a decline in respect for teachers, diminished empathy, and a crisis of digital etiquette among children. The study concludes that teacher shaming constitutes a form of symbolic violence reflecting a crisis in educational relationships in the digital age. Consequently, there is a need to strengthen digital ethics, safeguard the teaching profession, and promote character education, alongside fostering collaboration among schools, families, and the government to create a safer and more civil educational environment. ABSTRAK Transformasi digital telah mengubah pola komunikasi dalam pendidikan sekaligus meningkatkan penggunaan media sosial oleh siswa, orang tua, dan masyarakat. Di sisi lain, perkembangan tersebut memunculkan fenomena teacher shaming (perundungan dan penghinaan guru), yaitu tindakan mempermalukan atau merendahkan guru melalui platform digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis teacher shaming sebagai indikator krisis relasi pendidikan di era digital, mengkaji dampaknya terhadap kesejahteraan guru (teacher well-being), serta mengidentifikasi implikasinya terhadap karakter anak. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan Integrative Literature Review dengan mengikuti pedoman PRISMA 2020. Data diperoleh dari database Scopus, Web of Science, ERIC, dan Google Scholar/Garuda (terakreditasi Sinta 1-4) pada rentang publikasi 2018–2026. Sebanyak 32 artikel empiris yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teacher shaming banyak terjadi melalui TikTok, Instagram, Facebook, dan WhatsApp Group orang tua dalam bentuk penghinaan verbal, cyberbullying, penyebaran video tanpa izin, dan komentar negatif terhadap guru. Fenomena ini berdampak pada meningkatnya stres, kecemasan, burnout, rendahnya motivasi kerja, dan menurunnya kepuasan kerja guru. Selain itu, normalisasi teacher shaming berkontribusi terhadap menurunnya rasa hormat kepada guru, melemahnya empati, serta krisis kesantunan digital pada anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teacher shaming merupakan bentuk kekerasan simbolik yang mencerminkan krisis relasi pendidikan di era digital. Oleh karena itu, diperlukan penguatan etika digital, perlindungan profesi guru, pendidikan karakter, serta kolaborasi sekolah, keluarga, dan pemerintah untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan berkeadaban.