Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Siri’, Gender, and Sexuality among the Bugis in South Sulawesi Nurul Ilmi Idrus
Antropologi Indonesia Vol 29, No 1 (2005): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji mengenai seks, gender, dan siri' dalam budaya Bugis. Tulisan memerikan bagaimana gender dan seksualitas dipengaruhi oleh norma-norma adat yang berasal daritradisi tulisan, pepatah dan nasihat, serta menunjukkan beberapa studi kasus hasil penelitian etnografi di Sulawesi Selatan. Siri' (kehormatan/rasa malu) merupakan sebuah konsep mendasar dalam kehidupan masyarakat Bugis. Bagi orang Bugis, perempuan dipandang sebagai simbol dari siri' keluarga dan berkaitan dengan konsep laki-laki yaitu ' bi' (perilaku yang tepat). Akibatnya, perempuan harus dipantau secara ketat dan perilaku mereka tidak hanya diawasi oleh orangtua, tetapi juga oleh anggota keluarga dekat dan jauh atau bahkan oleh anggota-anggota masyarakat sekitar, yang lebih tepat disebut sebagai tomasiri' (orang yang bertanggung jawab menjaga siri' keluarga). Kenyataan ini didukung oleh adat Bugis yaitu seorang perempuan harus selalu di bawah perlindungan seseorang. Jika ia lajang,berapa pun usianya, ia berada dalam pengasuhan dan perlindungan orangtuanya, saudara laki-laki (bila ada), dan/atau kerabat laki-laki lainnya; ketika ia menikah, ia berada dibawah perlindungan suaminya. Kekuasaan parental ditransformasikan menjadi kekuasaan konjugal dan dialihkan kepada suaminya. Tulisan ini menggali bagaimana siri' berinteraksi dengan dan memperkuat identitas-identitas gender dan hubungan kekuasaan yang membentuk seksualitas perempuan dan laki-laki Bugis. Key words: Siri'; gender; sexuality; the Buginese culture; social control.
Participating in Parliamentary Politics: Experiences of Indonesian Women 1995-2010 Sharyn Graham Davies; Nurul Ilmi Idrus
Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities Vol 3 (2010): General Issue: Indonesian Social Sciences and Humanities
Publisher : Deputy of Social Sciences and Humanities, the Indonesia Institute of Sciences (LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.603 KB) | DOI: 10.14203/jissh.v3i1.47

Abstract

This article concerns itself with womens participation in politics and, more specifcally, the representation of women in elected legislatures, in Indonesia between 1995 and 2010. The article gives readers a brief overview of the various ways that Indonesian women participate in politics. Examples are given of women being traditional rulers, having political authority, exercising power, becoming presidents and cabinet ministers, participating in protest movements, and being elected to parliament. The article then moves to focus more specifcally on the election of women to the Indonesian parliament. The article analyses positive developments that have occurred in the past decade to facilitate womens entry to parliamentary politics. Although numerous positive developments have indeed taken place, the article argues that women are still hindered in their attempts to get elected to parliament. Drawing on indepth interviews, literature reviews, statistical analysis, and long-term ethnographic research, the authors identify some of the factors limiting womens election, including the restrictive limited model of womanhood advocated in Indonesia, declining cronyism, the ineffectiveness of the thirty per cent quota, the reputation politics has of being dirty, the in?uence of religion, and the large sums of money candidates need to support their election campaigns.