Ruang sebagai produk sosial memuat konstruksi sosial kompleks berdasarkan pemaknaan dan kontestasi kepentingan di dalamnya. Mereka yang terlibat dalam penjejalan makna dan pertarungan kontestasi dalam ruang tidak hanya berasal dari individu atau kelompok yang menghidupi ruang tersebut, tetapi juga berbagai pihak yang merasa memiliki pengalaman, pengetahuan dan imaji mengenai ruang tersebut, termasuk gerakan sosial. Adalah Komunitas Peduli Kali Loji (KPKL) yang kini tengah berperan aktif dalam pembentukan konsepsi terkait ruang yang ideal di Kota Pekalongan. Berawal dari sebuah gerakan lingkungan, KPKL berupaya untuk mentransmisikan pengetahuan yang mereka miliki tentang konsepsi ruang di Kota Pekalongan di tengah isu banjir rob yang merendam empatpuluh persen wilayah Kota. Konsepsi ruang Kota Pekalongan yang ideal didapatkan oleh KPKL melalui pengalaman keruangan para aktor dalam gerakan serta metode penilaian kebutuhan (need assessment) yang mereka lakukan. Berdasarkan dua sumber perolehan pengetahuan tersebut, KPKL lantas bertindak sebagai produsen pengetahuan yang kemudian coba didistribusikan melalui serangkaian praktik politik gerakan. Berangkat dari trialektika konsep lived space (ruang yang dihidupi), conceived space (representasi ruang) dan perceived space (ruang representasional) yang telah melahirkan tempat tersendiri bagi imaji-imaji mengenai ruang yang ideal, tulisan ini berupaya untuk memaparkan keterhubungan antara konteks spasial ruang, warga yang memiliki hajat hidup disana dan “para ahli” yang berupaya mewujudkan konsepsi ruang seperti yang mereka inginkan. Lebih jauh, tulisan ini juga berupaya untuk menguraikan proses produksi pengetahuan tentang konsepsi ruang yang ideal dan praktik politik yang dilakukan oleh gerakan sosial KPKL dalam wangka mewujudkan konsepsi ruang yang ideal di Kota Pekalongan.Kata Kunci: Representasi Ruang, Gerakan Sosial, Pengetahuan, Praktik Politik