Athaayaa Rifaa Bennetito
Universitas Bina Sarana Informatika

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Tingkat Kebangkrutan Pada PT FKS Food Sejahtera Tbk Periode 2021-2025 Athaayaa Rifaa Bennetito; Rani Kurniasari
Journal Liaison Academia and Society Vol 6 No 3: September 2026
Publisher : Lembaga Komunikasi dan Informasi Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58939/jlas.v6i3.1562

Abstract

Kondisi ekonomi pasca pandemi Covid-19 menyebabkan tekanan terhadap kinerja keuangan perusahaan, termasuk sektor Food and Beverages, sehingga perusahaan perlu menjaga efisiensi aset, likuiditas, dan profitabilitas agar terhindar dari financial distress yang dapat berujung pada kebangkrutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat prediksi kebangkrutan pada PT FKS Food Sejahtera Tbk periode 2021-2025, mengetahui faktor-faktor penyebab perbedaan hasil antar model, serta menentukan model yang paling relevan digunakan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif non statistik dengan menganalisis data sekunder berupa laporan keuangan tahunan PT FKS Food Sejahtera Tbk 2021-2025 yang dipublikasikan melalui Bursa Efek Indonesia, menggunakan empat model prediksi kebangkrutan, yaitu Altman Z-Score, Springate, Zmijewski, dan Grover. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Altman Z-Score menghasilkan rata-rata sebesar 0,049 dan model Springate sebesar 0,448, keduanya berada pada kategori bangkrut. Sementara itu, model Zmijewski menghasilkan rata-rata -1,508 yang dikategorikan sehat, dan model Grover menghasilkan rata-rata 0,036 yang juga dikategorikan sehat. Perbedaan hasil antar model terutama dipengaruhi oleh besarnya bobot akumulasi retained earnings pada Altman dan Springate, sedangkan Zmijewski dan Grover lebih menekankan pada profitabilitas dan leverage tahun berjalan. G-Score dinilai paling relevan sebagai acuan karena mengikutsertakan unsur modal kerja terhadap total aset sekaligus profitabilitas (EBIT/TA dan ROA), sehingga lebih peka terhadap dinamika kinerja operasional tahunan dan tidak terbebani akumulasi kerugian masa lalu yang sudah tidak relevan dengan kondisi terkini. Secara keseluruhan, keempat model menunjukkan adanya tren pemulihan kondisi keuangan perusahaan sejak tahun 2023 setelah mengalami tekanan pada tahun 2022.