Dwi Scativana Isnaeni Isnaeni
Independen

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Balung Buto dan Ingatan Kolektif: Negosiasi Identitas Budaya di Kawasan Paleontologi Sangiran, Ngandong, dan Bumiayu Dwi Scativana Isnaeni Isnaeni
Punggawa Social Inquiry: Journal of Crime, Culture, and Social Dynamics Vol. 1 No. 2 (2026): Punggawa Social Inquiry 1(2) 2026 : September
Publisher : Punggawa Legacy Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67707/psi.v1i2.145

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana fosil dan tinggalan paleontologis direpresentasikan dalam ingatan kolektif yang terdokumentasi serta bagaimana representasi tersebut berhubungan dengan konstruksi identitas budaya di kawasan Sangiran, Ngandong, dan Bumiayu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi dokumenter-komparatif. Data diperoleh melalui penelusuran artikel ilmiah, buku akademik, dokumen pengelolaan warisan, publikasi resmi lembaga kebudayaan dan pemerintah, dokumentasi museum, serta sumber tertulis mengenai folklor dan sejarah penelitian fosil. Analisis dilakukan melalui pembacaan intra-kasus dan perbandingan lintas kasus dengan memusatkan perhatian pada bentuk pemaknaan fosil, perubahan representasi dari penjelasan budaya menuju klasifikasi ilmiah, proses institusionalisasi warisan, dan hubungan antara tinggalan paleontologis dengan identitas tempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa balung buto merupakan kategori budaya yang terdokumentasi dalam sejarah pemaknaan fosil di Sangiran, terutama melalui narasi mengenai tulang raksasa dan cerita peperangan dalam tradisi lokal. Perkembangan pengetahuan paleontologi dan paleoantropologi, museumisasi, pendidikan, serta rezim pelestarian kemudian mengubah posisi narasi tersebut tanpa harus menghapus seluruh nilai budayanya. Perbandingan dengan Ngandong dan Bumiayu menunjukkan bahwa identitas paleontologis kawasan tidak terbentuk melalui satu pola yang seragam, melainkan melalui konfigurasi yang berbeda antara bukti material, sejarah penelitian, narasi budaya, karakter lanskap, dan institusi pelestarian. Penelitian ini menegaskan bahwa warisan paleontologis perlu dipahami sebagai fenomena material sekaligus sosial-kultural, dengan membedakan secara tegas antara nilai ilmiah fosil dan sejarah pemaknaan budaya yang berkembang di sekitarnya.