Air memiliki peran penting bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia, yang memanfaatkannya untuk berbagai keperluan sehari-hari. Sumber air yang sering digunakan masyarakat meliputi air permukaan (sungai, waduk, rawa), air tanah, dan air hujan. Namun, seiring meningkatnya populasi dan kerusakan lingkungan, ketersediaan air bersih dari sumber air permukaan semakin menurun akibat polusi, penggunaan berlebihan, jarak ke sumber air yang jauh, dan kekeringan. Untuk mengatasi krisis air bersih, berbagai langkah dapat dilakukan, seperti memperbaiki infrastruktur, memanfaatkan air tanah, menggunakan teknologi modern, membangun sistem tadah hujan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat. Salah satu solusi utama adalah memanfaatkan air tanah, sumber air tawar terbesar, dengan memahami zona akuifer yang mengandung air. Meski identifikasi zona akuifer sulit karena kondisi geologi kompleks, metode geofisika, seperti resistivitas listrik, telah membantu ahli hidrogeologi dalam menentukan kedalaman, ketebalan, dan persebaran akuifer untuk mendukung pemanfaatan air tanah secara efektif. Metode geolistrik resistivitas adalah salah satu metode geofisika yang digunakan untuk memetakan struktur bawah permukaan dengan mengukur variasi resistivitas batuan. Variasi ini dipengaruhi oleh perbedaan sifat kelistrikan material di bawah permukaan, yang berguna untuk mengidentifikasi anomali geologi seperti lapisan akuifer, zona patahan, atau struktur batuan yang dapat menandakan adanya potensi air tanah atau kondisi geologi tertentu. Di wilayah Pekon Suka Agung, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, metode geolistrik resistivitas dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik geologi bawah permukaan. Pengukuran resistivitas dilakukan dengan menggunakan alat resistivitymeter yang mendeteksi perbedaan nilai tahanan jenis dari satu titik ke titik lainnya. Anomali resistivitas kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi struktur geologi di bawah permukaan dan potensi keberadaan air tanah.