This Author published in this journals
All Journal Jurnal SENI MUSIK
Yuliana Lisa Walean
Universitas Pelita Harapan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perbandingan Preferensi Responden Terhadap Teknik Perekaman Stereo Untuk Ansambel Kolintang Pada Medley Lagu Tradisional Minahasa (O Ina Ni Keke Dan Si Patokaan) [Comparison of Respondents' Preferences for Stereo Recording Techniques for Kolintang Ensembles in Minahasa Traditional Song Medleys (O Ina Ni Keke Dan Si Patokaan)] Jack Arthur Simanjuntak; Yuliana Lisa Walean
Jurnal SENI MUSIK Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal SENI MUSIK
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jsm.v15i2.7485

Abstract

Kolintang, alat musik perkusi nada tinggi asli dari Minahasa, biasanya dimainkan sebagai bagian dari sebuah ansambel. Studi terbaru menunjukkan bahwa generasi muda kurang memiliki kesadaran dan keterlibatan dalam upaya inovatif untuk melestarikan dan mengembangkan warisan budaya ini, terutama dalam konteks ansambel Kolintang. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk pendekatan inovatif dalam menarik perhatian generasi muda, khususnya dalam domain teknik perekaman audio, khususnya rekaman stereo. Penelitian ini bertujuan untuk menilai preferensi responden terkait teknik perekaman stereo yang digunakan dalam merekam pertunjukan ansambel Kolintang. Berbagai metode perekaman stereo, seperti XY 90°, ORTF, AB, dan Mid Side, telah dianalisis. Selain itu, dilakukan survei dan wawancara dengan melibatkan 30 responden yang terdiri dari ahli dan non-ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik perekaman yang paling disukai adalah XY 90°, dengan jarak mikrofon sekitar 100 cm dan tinggi sekitar 200 cm. Metode ini mendapatkan persentase preferensi agregat sebesar 76,6% (23 dari 30) dari semua responden, baik ahli maupun non-ahli. Kriteria subjektif untuk preferensi ini mencakup atribut seperti kejelasan, ketepatan, bidang stereo yang realistis, dan tangkapan yang merata dan seimbang dari nuansa timbral Kolintang, sehingga menghasilkan representasi suara yang jelas dan khas untuk setiap instrumen. Abstract (English)The Kolintang, an indigenous pitched percussion instrument originating from Minahasa, is traditionally performed as part of an ensemble. Recent studies have shown that younger generations lack awareness and involvement in innovative efforts to preserve and develop this cultural heritage, particularly in the context of Kolintang ensembles. Consequently, there is a pressing need for innovative approaches to engage the youth, particularly in the domain of audio recording techniques, specifically stereo recording. This research endeavors to assess respondents' preferences regarding stereo recording techniques applied in capturing Kolintang ensemble performances. Various stereo recording methods, such as XY 90°, ORTF, AB, and Mid Side, were examined. Furthermore, a survey and interviews were conducted, involving 30 respondents comprising experts and non-experts. The findings reveal that the most favored recording technique is XY 90°, with a microphone distance of 100 cm and a height of 200 cm. This method obtained an aggregate preference percentage of 76.6% (23 out of 30) among all respondents, both experts and non-experts. Subjective criteria for this preference include attributes like clarity, precision, a realistic stereo field, and an even, balanced capture of the Kolintang's timbral nuances, resulting in distinct and clear sound representation for each instrument.