Karies gigi masih menjadi masalah kesehatan utama anak di Indonesia dengan prevalensi mencapai 93%. Pada mitra kegiatan, SDI Al Azhar 11 Surabaya, sistem full day school menyebabkan siswa mengonsumsi bekal dan snack lebih dari satu kali selama jam sekolah, sementara belum terdapat kebijakan kantin sehat maupun panduan pengaturan waktu konsumsi gula berbasis Sugar Clock. Kondisi ini meningkatkan risiko paparan makanan kariogenik secara berulang. Kegiatan ini bertujuan meminimalisir risiko karies melalui edukasi manajemen waktu konsumsi gula (Sugar Clock) dan evaluasi kualitas bekal siswa dengan pendekatan pemberdayaan partisipatif yang melibatkan guru dan orang tua (Jamiyah) sebagai subjek perubahan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan observasional dan penyuluhan. Observasi dilakukan melalui analisis jurnal bekal sehat bekal siswa selama 5 hari, sedangkan edukasi dilakukan dengan seminar dan diskusi panel kepada guru serta orang tua. Evaluasi efektivitas dilakukan menggunakan pre-test dan post-test. Analisis bekal menunjukkan dominasi makronutrien (Karbohidrat 3,94; Protein Hewani 3.76), namun sangat rendah serat (Sayur 1.22) serta tingginya snack kariogenik. Hasil post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan bermakna secara deskriptif terkait konsep Sugar Clock dan risiko diet terhadap karies, dengan mayoritas peserta mencapai skor maksimal. Secara praktis, kegiatan ini menghasilkan komitmen sekolah untuk menyusun panduan bekal sehat dan merintis kebijakan kantin sehat berbasis pengaturan frekuensi konsumsi gula. Model edukasi partisipatif berbasis sekolah ini efektif meningkatkan kapasitas orang tua dan guru dalam pencegahan karies serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih mendukung kesehatan gigi anak.