Sherlina Sherlina
Fakultas Psikologi, Universitas Tarumanagara, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peningkatan Self-Efficacy melalui Kegiatan Optimalisasi Calistung ada Anak Usia 6-12 Tahun Michelle Anastasia Clyren Loekito; Marcella Wongsonegoro; Sherlina Sherlina; Denrich Suryadi
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 6 No 4 (2026): JAMSI - Juli 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.3001

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung) sekaligus mendukung penguatan self-efficacy anak usia Sekolah Dasar di RPTRA X, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Program ini menyasar 14 anak berusia 9–12 tahun dengan latar belakang akademik yang beragam, termasuk beberapa di antaranya yang tidak terdaftar dalam pendidikan formal. Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, dilakukan pre-test dan post-test menggunakan instrumen Self-Efficacy Questionnaire for Children (SEQ-C) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Intervensi dilaksanakan dalam delapan sesi yang berfokus pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung serta diakhiri dengan aktivitas permainan interaktif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa seluruh 14 peserta mengalami peningkatan skor self-efficacy pada dimensi akademik dan emosional, berkisar antara 11,8% hingga 49,2%. Pada dimensi sosial, ditemukan penurunan skor yang diduga terkait dengan kecenderungan social desirability bias pada fase pre-test dimana rapport antara peserta dan tim pendamping belum terbentuk sepenuhnya; dugaan ini didukung oleh peningkatan nilai Cronbach's α pada post-test yang mengindikasikan respons yang lebih konsisten. Namun, interpretasi ini bersifat awal dan memerlukan kajian lebih lanjut untuk dapat disimpulkan secara lebih kuat. Secara umum, temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan calistung yang dirancang berpotensi mendukung penguatan self-efficacy anak, termasuk pada konteks keterbatasan akses terhadap pendidikan formal.