Banyak organisasi kekurangan bakat, pengetahuan, pendidikan, kesadaran, dan keahlian di bidang keamanan siber; sehingga kekurangan ini terus berkembang dan menjadi masalah yang signifikan. Kenyamanan yang dirasakan masyarakat dan investor (operator bisnis) tentang perlindungan hukum dan data dapat sangat terpengaruh oleh dampak pelanggaran. Pengaruh terbesar berasal dari gugatan yang diajukan terhadap pemerintah atas masalah keamanan siber. Penelitian ini mengenali dampak infrastruktur teknologi informasi, organisasi dan pengembangan diri beserta interkoneksinya. Penelitian ini menggunakan lima kerangka kerja penelitian operasional yang berbeda, meliputi tahapan persiapan, desain, pengumpulan data, analisis data, dan proses penulisan. Berdasarkan hasil dari f-square pada PLS SEM di hasilkan kontribusi infrastruktur teknologi informasi terhadap kompetensi adalah 0.129, kontribusi organisasi kerja terhadap kompetensi adalah 0.06, sedangkan kontribusi kompetensi terhadap perilaku kerja adalah 0.10, hasilnya menunjukan adanya kontribusi akan tetapi belum memberikan pengaruh yang significant. Keahlian dalam keamanan siber sanggatlah penting, karena dapat sangat memengaruhi kapasitas organisasi atau individu untuk melindungi diri dari ancaman siber. Keahlian yang memadai, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap, akan memfasilitasi dalam rangka mengidentifikasi, pencegahan, deteksi, dan respons terhadap ancaman siber dengan efektivitas yang lebih tinggi.