Amanda Elista
Universitas Gadjah Mada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Direction of Socio-Cultural Transformation Policy Based on Community Empowerment in Realizing Prosperity in Southwest Maluku Indonesia Ambar Teguh Sulistiyani; Amanda Elista; Nabilla Arsifatika; Nadiyah Salsa Billah; Khalda Hanifah
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.992

Abstract

This research focuses on efforts to improve community welfare in Southwest Maluku Regency (MBD). The poverty level of MBD Regency is much higher compared to the average poverty level in Maluku Province and the national average. Judging from the high potential of natural resources, such as the Masela Block, marine fisheries resources, buffalo, cattle, goat, forest products, regency should have the ability to alleviate poverty. Today we have entered a new decade in Long Term Regional Development, 2025-2045. How can the direction of socio-cultural transformation policies based on community empowerment create prosperity? This research uses a policy analysis approach, which is based on the MBD Regency Initial Long Term Regional Development Plan document. The data analyzed comes from secondary data, which is processed using descriptive statistics. The results of this research show that there is a socio-cultural transformation in overcoming poverty and improving welfare through community empowerment in MBD Regency. The recommendation submitted to the MBD Regency Government is that the direction of social and cultural transformation policies based on integrative social engineering is important so that an empowered, innovative and prosperous society is created. [Penelitian ini berfokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Tingkat kemiskinan di Kabupaten MBD jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku dan rata-rata nasional. Mengingat potensi sumber daya alam yang tinggi, seperti Blok Masela, sumber daya perikanan laut, kerbau, sapi, kambing, serta hasil hutan, kabupaten ini seharusnya memiliki kemampuan untuk mengurangi kemiskinan. Saat ini kita telah memasuki dekade baru dalam Rencana Pembangunan Daerah Jangka Panjang, 2025-2045. Bagaimana arah kebijakan transformasi sosial-budaya yang berbasis pemberdayaan masyarakat dapat menciptakan kemakmuran? Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kebijakan, yang didasarkan pada dokumen Rencana Pembangunan Daerah Jangka Panjang Awal Kabupaten MBD. Data yang dianalisis berasal dari data sekunder, yang diolah menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya transformasi sosial-budaya dalam mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan melalui pemberdayaan masyarakat di Kabupaten MBD. Rekomendasi yang diajukan kepada Pemerintah Kabupaten MBD adalah agar arah kebijakan transformasi sosial dan budaya yang berbasis sosial integratif teknik Hal ini penting agar tercipta masyarakat yang berdaya, inovatif, dan sejahtera.]
Transformasi Mata Pencaharian Pascatambang Melalui Pengembangan UMKM Berbasis Pariwisata: Analisis Pemberdayaan Masyarakat di Tebing Breksi Sambirejo Gufran Tuanaya; Hanisya Azzahra Larasati; Ambar Teguh Sulistiyani; Amanda Elista
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 1 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v1i2.1149

Abstract

Transformasi usaha masyarakat sambirejo dari penambang menuju pengelola pariwisata menunjukkan tantangan yang luar biasa. Hilangnya mata pencaharian penduduk setempat pasca penutupan tambang telah meningkatkan angka kemiskinan di Desa Sambirejo. Proses transisi dari masyarakat penambang menuju pengelola pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi pemberdayaan masyarakat Desa Sambirejo di mana, harus menjalankan peran sebagai pelaku UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan UMKM serta nilai sosial yang dihasilkan dalam mendukung transformasi mata pencaharian masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan berdasarkan kerangka SROI. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara akumulatif keberhasilan pemberdayaan UMKM di Tebing Breksi dapat dipahami sebagai hasil dari keterhubungan antara transformasi penghidupan, akses ekonomi lokal, penguatan kelembagaan, hingga pada manfaat sosial yang dirasakan masyarakat. Transformasi yang bermula dari kawasan tambang menjadi destinasi wisata telah menciptakan struktur peluang ekonomi baru bagi warga Sambirejo. Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh terbukanya ruang usaha bagi masyarakat lokal, berkembangnya kemampuan masyarakat untuk mengorganisasi diri, serta meningkatnya kualitas hidup masyarakat. Temuan yang didapatkan lebih menunjukkan pengalaman dan sudut pandang informan yang diwawancarai sehingga tak dapat digeneralisasikan untuk seluruh pelaku UMKM di kawasan Tebing Breksi. Penelitian ini memberikan perspektif bahwa kerangka SROI dapat diterapkan sebagai pendekatan analisis kualitatif untuk mengevaluasi nilai sosial pemberdayaan UMKM pada kawasan wisata pascatambang.
Peran Badan Usaha Milik KalurahanSambimulyo dalam Pemberdayaan Masyarakat Lokal melalui Pengelolaan Destinasi Wisata Tebing Breksi Muftia Ariffatul Fauziah; Maria Imelda Naibobe; Ambar Teguh Sulistiyani; Amanda Elista
Indonesian Journal of Public Administration and Policy Vol. 2 No. 1 (2026): Indonesian Journal of Public Administration and Policy
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ijpap.v2i1.1153

Abstract

The transformation of Breksi Cliff from a volcanic breccia mining area into a tourism destination has posed significant challenges to the sustainability of local livelihoods in Sambirejo Village. The cessation of mining activities in 2014 resulted in the loss of income sources for miners, who had previously worked without social security, compelling local communities to transition into tourism-related occupations amid persistently high levels of rural poverty. This condition has placed the Village-Owned Enterprise (Badan Usaha Milik Kalurahan/BUMKal) of Sambimulyo Village in a strategic position to undertake both community empowerment and regional economic management functions. This study aims to examine the role of BUMKal Sambimulyo Village in empowering local communities through the management of the Breksi Cliff tourism destination, while also evaluating the social value generated through this role. The study employs a descriptive qualitative approach based on the Social Return on Investment (SROI) framework. The findings indicate that the role of BUMKal Sambimulyo Village can be understood through the interconnected processes of institutional strengthening since the early stages of management, the expansion of the local economic ecosystem involving various business groups, and improvements in well-being directly experienced by workers and surrounding communities. The transformation from a mining area into a tourism destination has created new business opportunities for local residents, strengthened institutional capacity in maintaining transparency and social cohesion, and encouraged recognition of successful management at the national level. Nevertheless, the sustainability of these benefits remains dependent on seasonal fluctuations in tourist visits and limited funding for destination development. The findings primarily reflect the perspectives of key informants representing the management side and therefore do not fully capture the perspectives of MSME actors or direct beneficiaries within the local community. This study demonstrates that the SROI framework can be applied as a qualitative analytical approach to evaluate the social value generated by the role of village-owned enterprises in managing post-mining tourism destinations. [Transformasi Tebing Breksi dari kawasan pertambangan batu breksi vulkanik menjadi destinasi wisata menghadirkan tantangan signifikan terhadap keberlanjutan mata pencaharian masyarakat lokal di Desa Sambirejo. Penghentian aktivitas pertambangan pada tahun 2014 menyebabkan hilangnya sumber pendapatan para penambang yang sebelumnya bekerja tanpa jaminan sosial, sehingga masyarakat dituntut untuk beralih ke sektor pariwisata di tengah kondisi kemiskinan perdesaan yang masih relatif tinggi. Kondisi tersebut menempatkan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Desa Sambimulyo pada posisi strategis dalam menjalankan fungsi pemberdayaan masyarakat sekaligus pengelolaan ekonomi kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran BUMKal Desa Sambimulyo dalam memberdayakan masyarakat lokal melalui pengelolaan destinasi wisata Tebing Breksi, sekaligus mengevaluasi nilai sosial yang dihasilkan dari peran tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan kerangka Social Return on Investment (SROI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran BUMKal Desa Sambimulyo dapat dipahami melalui keterkaitan antara penguatan kelembagaan sejak tahap awal pengelolaan, perluasan ekosistem ekonomi lokal yang melibatkan berbagai kelompok usaha, serta peningkatan kesejahteraan yang dirasakan secara langsung oleh pekerja dan masyarakat sekitar. Transformasi kawasan pertambangan menjadi destinasi wisata telah membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, memperkuat kapasitas kelembagaan dalam menjaga transparansi dan kohesivitas sosial, serta mendorong pengakuan terhadap keberhasilan pengelolaan di tingkat nasional. Meskipun demikian, keberlanjutan manfaat tersebut masih dipengaruhi oleh fluktuasi musiman jumlah kunjungan wisatawan serta keterbatasan pendanaan untuk pengembangan kawasan. Temuan penelitian ini terutama merepresentasikan perspektif informan kunci dari sisi pengelola, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan perspektif pelaku UMKM maupun masyarakat sebagai penerima manfaat secara langsung. Penelitian ini menunjukkan bahwa kerangka SROI dapat diterapkan sebagai pendekatan analitis kualitatif untuk mengevaluasi nilai sosial yang dihasilkan dari peran badan usaha milik desa/kalurahan dalam pengelolaan destinasi wisata pascatambang. Kata kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Peran BUMKal, Destinasi Wisata Pascatambang]