Teknologi di era digital 5.0 saat ini seperti internet dan AI membawa perubahan signifikan bagi dunia pendidikan Indonesia sehingga perlu adanya kolaborasi pembelajaran antara teknologi dan juga nilai-nilai budaya dan agama. pendidikan Islam menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati diri religius dan kulturalnya. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana integrasi nilai-nilai Islam dan akulturasi budaya lokal Kalimantan Selatan dalam pengembangan teknologi pembelajaran di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berupa studi pustaka, yang menganalisis bagaimana filosofi etnopedagogi masyarakat di Kalimantan Selatan dapat disinergikan dengan media pembelajaran berbasis teknologi modern seperti Artificial Intelligence (AI) dan platform aplikasi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali nilai-nilai budaya lokal yang dapat dibingkai dalam kearifan lokal, seperti tradisi atau acara keagamaan, papadah, bangunan, seni, kuliner, dsb, dan diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang lebih kontekstual dan bermakna bagi peserta didik. Penggunaan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) dan kerangka 5D diharapkan dapat turut andil dalam mentransformasi teknologi dari sekadar alat menjadi sarana penguatan karakter dan pelestarian budaya, sehingga sesuai dengan teori Konstruktivisme Vygotsky. Penelitian ini menyimpulkan bahwa akulturasi antara agama, budaya, dan teknologi tidak hanya meningkatkan efektivitas kognitif, tetapi juga memperkokoh spiritualitas dan jati diri peserta didik di tengah masyarakat yang heterogen.