Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa desa sebagai satuan pemerintahan terkecil umumnya dikenal menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, solidaritas, dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan bersama. Realitasnya di Desa Sendayan muncul dinamika politik pasca Pilkades yang tidak hanya mencerminkan praktik demokrasi lokal, tetapi juga memunculkan persaingan antar elite yang berdampak pada perubahan struktur sosial dan pola interaksi masyarakat. Dalam penelitian ini menggunakan teori Sirkulasi Elite oleh tokoh Vilfredo Pareto. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana dinamika politik yang terjadi di masyarakat Desa Sendayan. Fenomena politik desa ini menarik karena memperlihatkan perubahan struktur sosial, munculnya persaingan antar kelompok, serta pergeseran interaksi sosial pasca Pilkades. Pendekatan penelitian yakni kualitatif dengan tipe studi kasus. Data dikumpulan melalui observasi non partisipasn dan wawancara mendalam terhadap 15 informan yang dipilih secara purposive, diantaranya kepala desa, perangkat desa, BPD, LPM, ninik mamak, tokoh masyarakat dan masyarakat. Selanjutnya data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan dinamika politik di Desa Sendayan berlangsung melalui enam tahapan, yaitu terpilihnya kepala desa pada Pilkades 2021, munculnya protes terhadap kinerja kepala desa, berkembangnya penghasutan, terjadinya konflik, upaya penyelesaian konflik, serta pergantian elite yang berkuasa pasca konflik. Rangkaian peristiwa ini mencerminkan proses sirkulasi elite sebagaimana dikemukakan Pareto, di mana kekuasaan bersifat dinamis dan bergeser melalui kompetisi dan konflik. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan bahwa sirkulasi elite di tingkat desa tidak hanya bermakna pergantian kekuasaan, tetapi juga menjelaskan keberlanjutan konflik dan fragmentasi sosial akibat belum tuntasnya integrasi antara elite lama dan elite baru.