Lucky Bayu Purnomo
Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya), Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HYBRID FINANCE SEBAGAI STRATEGI PENDANAAN ALTERNATIF DALAM CORPORATE ACTION DI PASAR MODAL INDONESIA Lucky Bayu Purnomo
JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Vol 9, No 2 (2026): JIMB - VOLUME 9 NOMOR 2 SEPTEMBER 2026
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37479/jimb.v9i2.41837

Abstract

Penelitian ini mengkaji hybrid finance sebagai strategi pendanaan alternatif dalam corporate action di pasar modal Indonesia, dengan fokus pada tiga mekanisme utama, yaitu Initial Public Offering (IPO), Right Issue, dan penerbitan instrumen konversi. Ketiga instrumen tersebut tidak diperlakukan sebagai mekanisme yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari satu arsitektur strategi pendanaan yang dapat dikombinasikan perusahaan untuk menyeimbangkan financing flexibility, cost of capital, financial risk, ownership dilution, dan firm value. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif konseptual berbasis studi kepustakaan, dengan mensintesiskan teori corporate finance (Modigliani-Miller theory, trade-off theory, pecking order theory, agency theory, information asymmetry theory, dan market timing theory) bersama bukti empiris dari penelitian-penelitian terdahulu mengenai IPO, right issue, dan convertible bond, baik di Indonesia maupun pada sejumlah pasar modal internasional (Tiongkok, India, Arab Saudi, dan Taiwan), yang diperkuat dengan pola data sekunder dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Hasil analisis menunjukkan bahwa IPO dan right issue umumnya memperluas basis ekuitas dan cenderung menurunkan leverage, tetapi menimbulkan biaya underpricing dan dilusi kepemilikan, sementara instrumen konversi memberikan fleksibilitas pendanaan karena keputusan konversi debt-to-equity dapat ditunda, meskipun menimbulkan potensi dilusi bersyarat dan peningkatan leverage sementara sebelum konversi. Temuan dari berbagai penelitian di Indonesia maupun mancanegara menunjukkan reaksi pasar yang beragam terhadap pengumuman right issue, pola underpricing IPO yang dipengaruhi oleh karakteristik perusahaan dan kondisi pasar, serta bukti bahwa volume penerbitan convertible bond dapat memperkuat struktur modal dan meningkatkan nilai perusahaan melalui jalur transmisi struktur modal yang belakangan juga dikonfirmasi oleh bukti lintas negara. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini mengembangkan Hybrid Corporate Action Financing Model (HCAFM) yang memetakan kebutuhan pendanaan, kondisi pasar, dan investor appetite ke dalam kerangka pemilihan instrumen yang dapat menghasilkan strategi pendanaan tunggal maupun kombinasi. Model ini memberikan perspektif integratif yang selama ini jarang ditemukan pada penelitian yang mengkaji IPO, right issue, dan instrumen konversi secara terpisah, serta menawarkan panduan praktis bagi manajer keuangan perusahaan, investment banker, dan regulator pasar modal di Indonesia.