Adolescence is a developmental phase marked by emotional changes, the need for autonomy, and the search for self-identity. In certain contexts, parents implement protective parenting styles to ensure children's safety, but this approach can impact family communication dynamics. This study aims to understand how interactions between protective parents and adolescents shape family communication patterns in the church community. This study uses Family Communication Patterns theory as the basis for analysis to identify consensual, pluralistic, protective, and laissez-faire. The research method used was descriptive qualitative through in-depth interviews with three pairs of parents and adolescents as research subjects and one expert informant for data triangulation. The results indicate that the communication patterns that emerged tended to be predominantly protective, but each family exhibited variations in how rules were conveyed, the space for dialogue, and emotional responses. Empathetic and open communication allows for harmonious relationships, while a rigid and one-way approach has the potential to create resistance in adolescents. Thus, two-way communication is a crucial factor in maintaining emotional closeness in protective families. Remaja merupakan fase perkembangan yang ditandai dengan perubahan emosi, kebutuhan otonomi, serta pencarian identitas diri. Pada konteks tertentu, orang tua menerapkan pola pengasuhan protektif untuk menjaga keamanan anak, namun pendekatan tersebut dapat memicu dinamika komunikasi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana interaksi antara orang tua protektif dan remaja membentuk pola komunikasi keluarga pada satu komunitas gereja. Penelitian ini menggunakan teori Family Communication Patterns sebagai dasar analisis untuk mengidentifikasi kecenderungan komunikasi consensual, pluralistic, protective, dan laissez-faire. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap tiga pasang orang tua dan remaja sebagai subjek penelitian serta satu narasumber ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi yang muncul berada pada rentang pola consensual dan protective, bukan satu tipe tunggal. Pola komunikasi terbentuk melalui perpaduan antara kebutuhan orang tua untuk menjaga kepatuhan dan kebutuhan anak untuk memperoleh ruang dialog. Komunikasi yang empatik dan terbuka memungkinkan hubungan tetap harmonis, sementara pendekatan yang kaku dan satu arah berpotensi menimbulkan resistensi pada remaja. Dengan demikian, komunikasi dua arah menjadi faktor penting dalam menjaga kedekatan emosional di keluarga protektif.