Marital adjustment is a crucial process in maintaining harmony within married life, particularly among young married couples who are still adapting to new roles and responsibilities. This study aimed to analyze the effects of self-concept and perceived social support on marital adjustment among young married couples. This study employed a quantitative correlational approach. The study population consisted of married individuals throughout Indonesia who were married before the age of 25 for males and before the age of 21 for females, with a maximum marriage duration of five years. A total of 374 individuals participated in the study. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that self-concept and perceived social support jointly accounted for 12.6% of the variance in marital adjustment, as indicated by the coefficient of determination (R²). The simultaneous test showed a significance value of p < 0.001, indicating that both variables had a significant combined effect on marital adjustment. In the partial tests, self-concept had a significant effect on marital adjustment (p = 0.027 < 0.05), while perceived social support also had a significant effect (p < 0.001). These findings indicate that a positive self-concept and perceived social support can help young married couples adapt to the dynamics of married life. Additional analyses revealed that self-concept and perceived social support did not differ significantly based on gender, age at marriage, or marriage duration. However, significant differences were found in marital adjustment based on gender and age at marriage. These findings indicate that marital adjustment is more sensitive to gender differences and individual readiness for marriage, such that gender and differences in age at marriage may be associated with different levels of marital adjustment. Penyesuaian perkawinan menjadi tahapan krusial dalam menjaga harmonisnya kehidupan rumah tangga, terutama pada pasangan menikah di usia muda yang masih berada pada tahap adaptasi terhadap peran dan tanggung jawab baru. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsep diri dan perceived social support terhadap penyesuaian perkawinan pada pasangan usia muda. Pendekatan yang digunakan yaitu metode kuantitatif korelasional. Populasi penelitian yakni individu yang sudah menikah di seluruh Indonesia dengan usia menikah kurang dari 25 tahun bagi laki-laki dan perempuan kurang dari 21 tahun, dengan lama perkawinan maksimal 5 tahun. Jumlah partisipan yang terlibat sebanyak 374 individu. Analisis data dilaksanakan menggunakan teknik regresi linear berganda. Hasil penelitian memaparkan bahwa konsep diri dan perceived social support mempunyai koefisien determinasi (R²) sebesar 12,6% terhadap penyesuaian perkawinan. Hasil uji simultan menunjukkan nilai p < 0,001, artinya kedua variabel secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap penyesuaian perkawinan. Pada uji parsial, konsep diri berpengaruh signifikan terhadap penyesuaian perkawinan (p = 0,027 < 0,05) dan perceived social support juga memberikan pengaruh yang signifikan (p < 0,001). Itu berarti, Konsep diri yang positif dan dukungan sosial yang dirasakan bisa membantu pasangan usia muda untuk menyesuaikan diri dalam dinamika kehidupan perkawinan. Analisis tambahan mendapatkan bahwa konsep diri dan perceived social support tidak memiliki perbedaan yang signifikan berdasarkan jenis kelamin, usia saat menikah, dan lama perkawinan. Namun, ada perpedaan signifikan berdasarkan jenis kelamin dan usia saat menikah pada variabel penyesuaian perkawinan. Temuan ini mengindikasikan bahwa penyesuaian perkawinan lebih sensitif pada perbedaan gender dan kesiapan individu dalam menjalani perkawinan, sehingga jenis kelamin maupun perbedaan usia saat menikah bisa menunjukkan tingkat penyesuaian yang berbeda.