Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Peningkatan Kapasitas Kelompok Tani Hutan Wono Klampok Lestari melalui Adopsi Teknologi Fermentasi Terkontrol pada Pengolahan Kopi di Desa Klampok, Malang Afifa Husna; Mochammad Amir Mochtar; Isa Abdullah Ahmad; Faidullah Ramadhan; Geovanny Zakaria Irfan; Fatihul Khoiri; Luthfia Rizqul Fadlila; Hachika Rahma Festy Basrulindani; Najwa Azizia Ilyas; Siti Solehatus Hanifah; Ihwannul Muslimin; Nadine Rahmalia Nuraisyah; Nurul Fitriyatul Mukarramah; Dinda Pasca Sang Saka; Karenina Althafunnisa; Gusti Karina Wahyudi; Ilmam Zul Fahmi
Abdimas Galuh Vol 8, No 2 (2026): September 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i2.26676

Abstract

Desa Klampok memiliki potensi perkebunan kopi Arabika seluas 450 hektar, namun pengelolaannya masih didominasi pola tradisional sehingga membatasi nilai tambah produk. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan teoretis dan keterampilan praktis anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) "Wono Klampok Lestari" dalam mengolah kopi metode carbonic maceration menggunakan fermentor dengan sistem terkontrol (dilengkapi sensor pH, suhu, dan tekanan). Metode pelaksanaan menerapkan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang meliputi penyuluhan teori fermentasi terkontrol, demonstrasi praktik langsung, serta evaluasi berbasis pre-test, post-test, observasi partisipatif, dan wawancara mendalam. Peralatan utama yang digunakan mencakup unit fermentor berkapasitas 120 kg cherry, sensor suhu, tekanan, dan pH, tabung CO₂, serta pengaduk. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman teoretis mitra yang signifikan pada seluruh indikator soal terkait konsep, tujuan, alat-bahan, tahapan produksi, hingga parameter kontrol. Sesi praktik langsung membuktikan keberhasilan adopsi teknologi, di mana mitra mampu mengoperasikan alat secara mandiri sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), yakni mulai dari pemuatan bahan, pembuangan oksigen, pemantauan otomatis tekanan, suhu, dan pH suaya mencapai target, hingga tahap pengeluaran lendir serta biji kopi. Dapat disimpulkan bahwa program ini berhasil meningkatkan kapasitas mitra dalam mengoperasikan teknologi pascapanen kopi terkontrol. Disarankan agar mitra menerapkan SOP ini secara konsisten pada musim panen mendatang, sementara kegiatan pengabdian lanjutan disarankan berfokus pada penanganan pascafermentasi, uji cita rasa (cupping test), serta pengembangan sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT).